Diberdayakan oleh Blogger.
 
 
Rabu, 08 Juli 2015

Riots : Psis Semarang vs Persis Solo 04/07/2015


Riots : Psis Fans vs Persis Fans
Final Kapolda Jateng CUP 2015 (04/07/2015)
Std. Jatidiri Semarang, Jawa Tengah
Pertandingan dihentikan, karena dua kelompok suporter terjadi kerusuhan












Kamis, 02 Juli 2015

Anarkisme dan Kesalahkaprahan Maknanya dalam Sepakbola


Agak menggelikan rasanya ketika tahu bahwa di zaman digital seperti saat ini terma ‘anarkisme’ masih saja ditafsirkan sebagai ‘sumbu’ keonaran. Terlebih jika ‘anarkisme’ dikontekstualisasikan ke dalam lingkup sepakbola, maka purna sudah salah satu ideologi yang paling ‘manusiawi’ tersebut menjadi faktor pertama penyebab mengapa barbarisme peradaban tak kunjung selesai. Pemikiran dangkal seperti itu sudah saatnya dibabat. Anarkisme dalam sepakbola bukanlah sebuah dosa yang harus masuk ruang purgatori.

Ada sebuah kisah. Pada tahun 1950, terdapat seorang anak muda berusia 18 tahun dari Italia bernama Pietro Ferrua. Ia dijatuhi hukuman 15 bulan penjara oleh pemerintah setempat lantaran dianggap melakukan makar. Tuduhan yang bukan main-main untuk anak seumurnya. Pun demikian, rupanya nyali Ferrua cukup besar, kendati otot-otot tubuhnya tak selayaknya pendekar. Oleh karenanya, ia pun melarikan diri, kabur ke segala arah mata angin. Hingga kemudian propagandis anti-negara itu singgah di Swiss.

Di Swiss, yang dikenal sebagai negeri dengan tingkat toleransi tinggi tersebut, Ferrua tak lantas bertaubat jadi pemuda ‘baik-baik’. Ia terus menyebarkan pemikirannya, membuat lingkar diskusi, menulis banyak pamflet dan artikel, seraya bertahap membangun sebuah perpustakaan yang kebanyakan berisi literatur pemikiran anti-otoritarian. Singkat kata, di Swiss, proses intelektualisasi Ferrua berkembang pesat.

Akan tetapi, kegiatan politik Ferrua—yang memang didasari ide-ide ekstrim—lama-lama mengusik keberadaan para politisi Swiss. Kebanyakan dari mereka bahkan menyerukan agar Ferrua segera angkat kaki dari negeri kecil itu. Pada tahun 1963, Ferrua pun minggat, tetapi tidak dengan pemikirannya. Pasca kepergiannya, solidaritas kolektif anarko di Swiss saling membantu untuk menyelesaikan perpustakaan yang sempat dibangun Ferrua.

Hingga hari ini, perpustakaan tersebut masih berdiri kokoh dan menyedot banyak kutu buku. Tak hanya sebagai rumah berbagai jenis buku, perpustakaan yang dinamai CIRA: International Centre for Research on Anarchism, dan terletak di kota Lausanne itu juga berfungsi sebagai pusat kajian riset untuk segala ide-ide anarkisme.

Koleksi CIRA kini sudah mencakup ribuan buku. Di antaranya adalah buku-buku—dan juga berlembar-lembar artikel—karangan para pemikir anarkis seperti Petr Kropotkin, Pierre-Joseph Proudhon, Mikhael Bakunin, atau Emma Goldman. Selain itu, hanya di CIRA Anda dapat menilik dokumen Paris Commune 1871, poster-poster asli Spanish Revolution yang dibuat oleh para seniman Catalonia pada tahun 1930-an, surat-surat kabar bawah tanah yang dibuat oleh imigran Italia dan terbit secara berkala sejak tahun 1922-1971, hingga segala informasi tentang Freetown Christania, barisan orang yang memproklamirkan diri sebagai masyarakat otonom di Copenhagen, yang dulu pernah menduduki pangkalan militer di sana sebagai “kampung halamannya”.

Satu hal menarik yang dapat dijumpai di CIRA adalah pamflet Anarchist Football (Soccer) Manual (selanjutnya ditulis AFM). Sebuah pamflet yang diinisiasi oleh Gabriel Kuhn (seorang mantan pesepakbola semi profesional yang kemudian beralih menjadi seorang intelektual anarkis Austria pada tahun 1990). Anda dapat membaca bukunya yang berjudul ‘Soccer vs. the State: Tackling Football and Radical Politics‘ dan segala informasi tentang Alpine Anarchist Productions, sebuah lingkar diskusi kolektif yang juga merupakan bentukan Kuhn.

Munculnya pamflet AFM dimulai pada Piala Dunia 2006 lalu. AFM berisi seruan untuk menolak sepakbola modern yang dianggap dikendalikan oleh kalangan menengah atas demi komersialisasi dan kepentingan kapital. Lebih dari itu, para penggagas AFM menilai bahwa industrialisasi sepakbola saat ini telah mengeksploitasi daya saing alamiah manusia hingga sedemikian rupa, yang kemudian mengikis rasa solidaritas antar sesama individu/ kolektif.

Sejatinya, upaya awal Against Modern Football yang digagas dalam AFM adalah bukan dengan memboikot segala produk klub sepakbola dan menolak menonton ke stadion, tetapi justru dengan ide radikal yang cukup unik: menolak bermain bola secara kompetitif. Apa maksudnya “bermain bola tidak kompetitif”? Bagaimana pula bentuk permainannya?

Penjelasan teknisnya adalah mulailah bermain bola secara tradisional. Maksudnya, silakan ajak sebanyak mungkin orang untuk bermain dengan cara ‘open-ended pick-up games‘ atau untuk bersenang-senang. Siapa saja dapat ikut bermain sampai mereka merasa bosan. Untuk mengurangi “loyalitas” berlebih kepada salah satu tim, setiap pemain dipersilakan untuk bermain di tim lawan. Singkat kata: ciptakan sepakbola murni sebagai sebuah permainan, bukan persaingan. Kesenangan, tanpa kebencian.

Sejatinya, jauh sebelum Kuhn dkk. menawarkan prototipe cetak biru ‘anarkisme sepakbola’, barisan pemikir anarkis di Argentina pada tahun 1908 telah lebih dulu melakukan hal tersebut dengan membentuk sebuah klub bernama Atletico Libertarios Unidos (Libertarians United), sebagai bentuk perlawanan terhadap pemerintah yang menganggap mereka subversif.

Dua tahun sebelumnya, sebuah klub bernama Argentinos Juniors juga didirikan oleh para martir Anarkis di Argentina sebagai bentuk kehormatan para pejuang Haymarket Anarchists dan Chacarita Juniors. Dengan semboyan “In soccer you learn how to act in solidarity”, Argentinos Juniors memakai seragam berwarna merah-hitam—yang merupakan warna identitas gerakan anarkis—sebagai simbol perlawanan. Warna seragam yang di kemudian hari juga turut dipakai klub sepakbola anarkis lain di Uruguay bernama Progreso Uruguay.

Di tahun 1912, mereka yang merasa sebagai bagian dari kelas pekerja miskin di Kroasia juga menggagas ide yang sama dengan mendirikan sebuah klub bernama RNK Split of Croatia. Selain sebagai tempat untuk bermain bola sesama pekerja, RNK Split of Croatia juga turut berperan dalam persebaran ide-ide anarkis ke segenap pekerja lain di seantero negeri.

Sementara itu, seperti Saint Pauli di Jerman, FC United of Manchester juga didirikan dengan itikad anarkisme yang kuat. Mereka menamai spirit pemberontakan tersebut ‘Spirit of Shankly’, dengan jargon: “I dont have to sell my soul!”. Baik suporter kedua klub yang bermarkas di Jerman dan Inggris itu sama-sama paling vokal dalam menyerukan pesan-pesan Against Modern Football: bahwa (sebuah klub) sepakbola harus didasari pada kepentingan penggemar, bukan sekadar sebagai pabrik pencetak fulus dan sekrup kapitalisme.

Karena militansi suporternya tersebut, FC United of Manchester pun disebut sebagai ‘Punk of Football’. Entah kebetulan atau tidak, FCUM pun menamai konsep manajerial keuangan mereka dengan slogan: ‘punk finance’, yaitu cara mendanai klub tanpa masukan dari bank-bank maupun korporasi besar. Sungguh berbeda sekali dengan FC Manchester United yang dalam beberapa periode dicap sebagai perusahaan paling dibenci di Britania Raya karena terlalu sering (mudah) meraih keuntungan besar.

Masih di Inggris, tepatnya di Bradford, para anarkis juga turut membuat sebuah turnamen sepakbola berdasarkan 12 tim tiap perayaan Mayday pada tanggal 1 Mei. Hal tak jauh berbeda dilakukan klub-klub di Bristol, seperti Cowboys Easton dan Cowgirls, yang berisikan para pemain dari masyarakat sekitar. Pada Piala Dunia 1998, Cowboys Easton dan Cowgirls bahkan menyelenggarakan turnamen ‘Piala Dunia’ tandingan. Momen tersebut lantas mendunia hingga membuat Subcomandante Marcos, salah seorang aktivis Zapatista, mengundang mereka dalam turnamen sepakbola yang mereka bentuk sendiri di Chiapas, Meksiko.

Berbicara tentang Subcomandante Marcos, kita harus melihat masa silam, tepatnya pada 1 Januari 1994, untuk mengetahui sejarah singkatnya. Ketika itu, Marcos mengomandoi sekitar tiga ribu orang Indian Maya bersenjata yang menyebut diri sebagai Tentara Pembebasan Nasional Zapatista (Ejército Zapatista de Liberación Nacional-EZLN) yang bersifat otonom, untuk menyerbu negara bagian Chiapas, Meksiko dari pengunungan Lacandon. Istilah Zapatista sendiri memiliki arti orang orang Zapata, merujuk keterkaitan emosional mereka dengan pejuang Meksiko pada 1911, Emiliano Zapata.

Adapun penyerbuan tersebut dilakukan sebagai bentuk protes atas kebijakan pemerintah Meksiko yang ikut menandatangani draft perdagangan bebas NAFTA (North America Free Trade Agreement) bersama Kanada dan Amerika Serikat. Draft tersebut disinyalir akan menjadi preseden buruk bagi para petani adat setempat. Sebab melalui perjanjian tersebut, para petani yang notabene hanya memiliki alat pertanian alakadarnya, harus bersaing dengan berbagai perusahaan pertanian raksasa yang menggunakan peralatan canggih dan lengkap.

Dengan balutan balaclava (topeng ski hitam), tiga ribu tentara Zapatista tersebut kemudian berhasil menduduki tujuh kota, di mana antaranya adalah San Cristobal de las Casas, Ocosingo, Las Margaritas, Altamirano, Chanal, Oxchuc dan Huixan. Akibat serbuan tersebut, konflik bersenjata pun tak dapat terhindarkan antara pihak Zapatista dengan tentara pemerintah.

Pun demikian, sebelum konflik berkembang makin luas, rakyat Meksiko lebih dulu tergerak untuk menyerukan perdamaian. Perang pun hanya berlangsung 14 hari dengan 40 korban tewas di pihak pejuang dan 100 di pihak tentara pemerintah. Sejak itu Zapatista kembali ke Pegunungan Lacandon dan melancarkan perang ‘gaya baru’ yang lebih mengedepankan kata-kata ketimbang mitraliyur atau lars sepatu. Marcos sendiri yang menjadi ujung tombaknya.

Marcos, yang juga memiliki rupa yang ikonik karena pipa rokok yang selalu dihisapnya di balik balaclava, memang seorang pejuang kemanusiaan terunik yang lahir di abad ke-20. Ia tak hanya lihai dalam merancang strategi revolusi yang penuh dentuman dan senapan di medan perang, tetapi ia juga seorang aktivis literasi yang jenius. Sejak tahun 1992 hingga 2006, ia tercatat telah menulis lebih dari 200 esai, cerita, serta 21 jilid buku dengan total 33 edisi. Dan nyaris kesemua karyanya tersebut diciptakannya pada masa konflik, di mana para tentara Zapatista harus naik turun gunung menyusuri lembah demi bersembunyi dari serbuan pasukan militer pemerintah Meksiko.

Kata-kata yang ditulis Marcos memang menggugah. Sasaran pembacanya pun beragam, mulai dari kalangan intelektual menara gading, hingga buruh-buruh dan rakyat miskin kota. Kendati dalam setiap tulisannya—terlebih dalam setiap artikelnya—selalu mengandung pesan anti-neoliberalisme, tetapi Marcos tak hanya sekadar memuntahkan opini belaka. Ia selalu menyampaikan gagasannya lengkap dengan kaidah-kaidah ilmiah yang ketat dan kerangka teoritis yang kokoh.

Aktivitas literasi Marcos yang tak pernah mengenal jeda selama puluhan tahun akhirnya berhasil membuat mata dunia dengan situasi sesungguhnya yang terjadi di Meksiko, terlebih di Chiapas. Hal ini pula yang kemudian membuat Massimo Moratti, sang presiden Inter Milan, menyatakan sikap setuju terhadap ‘tantangan’ Marcos melalui surat pribadi yang dikirimnya agar Nerazzurri bersedia bertanding dengan kesebelasan EZLN yang terdiri dari para tentara Zapatista pada tahun 2005 lalu.

Hubungan antara Inter dengan EZLN sendiri tidak terjadi begitu saja, sebenarnya. Sedikit penjelasan, Meksiko adalah salah satu dari 14 negara berkembang yang menjadi lokasi Inter Campus, semacam badan amal milik La Beneamata yang, selain menjadi sekolah sepakbola, juga kerap memberikan bantuan kepada anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu—tercatat sudah sekitar 10.000 anak yang dibantu oleh program ini—atau klub-klub olahraga setempat. Termasuk juga perbaikan saluran air dan layanan kesehatan. Di Chiapas sendiri, pada tahun itu, Inter Campus juga sudah kerap membantu proyek kemasyarakatan.

Dalam surat ‘tantangan’ tersebut, Marcos juga secara kocak menyampaikan berbagai rincian teknis, termasuk ‘peringatan’ agar Inter tidak lupa membawa bola karena semua bola milik Zapatista sudah bocor. Selain itu, ia juga menambahkan bahwa pada saat itu, tim EZLN tengah berlatih tendangan penalti karena ia yakin laga nanti akan diakhiri dengan babak tos-tosan. Marcos menulis, dengan nuansa humor yang segar,

“Because of our support for your team, we do not plan to immerse your team with our goals.”

Marcos pun menjelaskan dalam surat tersebut bahwa ia juga berencana akan mengundang Diego Maradona sebagai wasit, lalu Jorge Valdano dan Javier Aguirre akan menjadi asisten. Socrates, salah seorang legenda Brasil yang mahsyur itu, diplot sebagai wasit keempat. Sementara itu, Eduardo Galeano dan Mario Benedetti akan menjadi komentator di televisi ala Zapatista yang disebut ‘Zapatista System of Intergalactic Television, the only tv to be read not watched’.

Kapten Inter, Javier Zanetti, menjadi pemain Nerazzurri yang paling bersemangat mengetahui kabar tersebut. Pesepakbola Argentina yang tatanan rambutnya nyaris tak pernah berubah selama bertahun-tahun itu memang dikenal sebagai aktivis sosial ketika berada di luar lapangan. Ia pun juga pernah menyurati Marcos serta memberikan dana bantuan berupa uang pribadi sebesar 5000 euro pascapenyerangan paramiliter yang menimpa Zapatista di sebuah desa di perbatasan Meksiko-Guatemala.

“We believe in a better world, in an unglobalised world, enriched by the cultural differences and customs of all the people. This is why we want to support you in this struggle to maintain your roots and fight for your ideals,” tulis Zanetti ketika itu.

Akan tetapi, pada akhirnya pertandingan tersebut urung dilaksanakan. Banyak yang menduga bahwa sikap setuju Moratti tersebut merupakan strategi untuk mengeruk minyak Meksiko yang memang berpusat di Chiapas. Dugaan ini—selain bermula karena melihat latar belakang Moratti yang memang seorang baron minyak tersohor—secara terang diungkapkan pertama kali melalui sebuah artikel di The Christian Science Minor, yang ditulis oleh Danna Harman pada 2 Agustus 2005 dengan judul: It Will All Be Made in the Next Zapatista Memo.

Tak hanya itu, Hugh Dellios, salah seorang jurnalis senior di Amerika, melalui investigasinya di lapangan, juga menuliskan sebuah artikel berjudul Masked Rebel Leader Has a New Cause in Mexico pada tanggal 14 Agustus 2005 di koran Chicago Tribune. Pascakemunculan dua artikel tersebut, tak ada kabar yang jelas mengenai kelanjutan tentang laga antara Inter dengan tim EZLN. Pun demikian, Inter Campus masih tetap melanjutkan misi kemanusiaannya di Chiapas. Termasuk dengan sikap Zanetti yang hingga saat ini masih tetap memberikan dukungan politiknya terhadap EZLN dan Marcos.

Kembali ke Swiss, pada pertengahan tahun 1975, segelintir aktivis sayap kiri yang ikut membidani lahirnya liga sepakbola yang dinamai Alternative Football League (nanti ditulis AFL), ‘menantang’ tim dari tentara yang dinamai: FC Soldatenkomitee, yang jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia kira-kira menjadi ‘tentara rakyat’.

Hal tersebut dilakukan para aktivis kiri tadi sebagai bentuk perlawanan terhadap kebijakan pemerintah yang mewajibkan setiap pemuda untuk wajib militer. Adapun nama yang digunakan oleh para aktivisi kiri tersebut untuk nama klub mereka adalah: FC Bakunin. Ditakik dari nama seorang filsuf penggagas paham Anarkisme: Mikhail Bakunin.

Pertandingan pun dimulai. Sebagai pemberitahuan, dalam timnya, FC Bakunin juga melibatkan dua anggota perempuan. Akan tetapi, mereka akhirnya kalah setelah melalui laga yang cukup sengit dengan skor 3-5 untuk keunggulan FC Soldatenkomitee. Kekalahan yang wajar mengingat persiapan mereka untuk laga itu hanya dilakukan dalam satu malam. Selebihnya: spontanitas.

Satu tahun kemudian, para aktivis kiri tersebut kemudian menggagas Fortschrittlicher Schweizer Fussballverband (atau dalam Bahasa Indonesia bisa diartikan Asosiasi Sepakbola Progresif Swiss) sebagai bentuk keseriusan mereka dalam mengembangkan AFL. Dalam perkembangannya, AFL bergerak secara klandenstin.

Mula-mula, AFL ‘hanya’ berhasil mengumpulkan 650 pesepakbola. Bahkan pada tahun 90-an, organisasi tersebut nyaris bubar dikarenakan terdapat krisis internal. Pun demikian, hingga hari ini, AFL tetap berdiri dan telah menjaring sebanyak 25 tim sepakbola, di mana ke-12 di antaranya adalah tim perempuan dan tujuh tim lain berasal dari Veteran’s League.

Melalui serentet fakta dan berbagai penjelasan singkat di atas, kesalahkaprahan masyarakat dalam menilai istilah ‘anarkisme’, khususnya dalam sepakbola, sudah sepatutnya mulai dikikis. Sebab nyatanya, ada sebuah bangunan moralitas yang kokoh dalam relasi keduanya yang tidak melulu bersifat destruktif sebagaimana yang kerap dituliskan di banyak media.

Akan tetapi, sebagian dari Anda mungkin masih akan ada yang bersikeras mengatakan bahwa sejarah anarkisme dalam perjuangannya juga kerap bersinggungan dengan kekerasan, termasuk dalam lingkup sepakbola. Jika benar demikian, mungkin Anda lupa bahwa cinta memang terkadang hanya bisa timbul melalui selongsong senapan, bukan lewat cokelat dalam Valentine’s Day.[]

sumber - http://anarkis.org/anarkisme-dan-kesalahkaprahan-maknanya-dalam-sepakbola/
Selasa, 03 Maret 2015

Artikel : Disorientasi Suporter

Warna Persebaya Surabaya adalah hijau. Tak pernah berubah. Dari dulu hingga sekarang. Tapi, dalam beberapa tahun belakangan selalu ada warna lain di tribun Gelora 10 November Surabaya. Begitupula di stadion anyar Surabaya : Gelora Bung Tomo. Selalu ada biru diantara hijau. 

Pemandangan yang ganjil. Perpaduan yang tak lazim. Bukankah biru merupakan warna kebesaran Arema Malang-tim yang selalu berada di seberang mata dan hati pendukung Persebaya, Bonek. 

Argumentasi yang mudah dipatahkan memang. Sebab, warna biru yang menyembul di Gelora 10 November maupun Gelora Bung Karno bukan seragam Arema. Tidakpula atribut Aremania-suporter Arema. Tapi, biru yang menjadi atribut Bobotoh-pendukung Persib Bandung. Kendati begitu, menyeruaknya warna biru itu sulit dinalar. Karena, sekali lagi, warna Persebaya adalah hijau. 

Warna lain seperti itu tak hanya di Surabaya. Di Stadion Kanjuruhan, Malang pun serupa. Setiap kali Arema bermain di stadion yang terletak Malang bagian selatan tersebut, selalu ada warna oranye di tribun. Juga di jalanan menuju stadion. Oranye yang merupakan warna Persija Jakarta saat ini (seragam terdahulu Persija adalah merah bata). 

Tak sekedar warna, tapi juga nama. Nyaris di seluruh laga Arema-bukan saja di Kanjuruhan-tidak sedikit Aremania yang membentang syal yang tak hanya tertulis nama tim kebanggaannya. Namun, syal yang menyandingkan nama Arema dan Persija. Padanan warna dan nama yang tentu saja terasa aneh.

Dan keganjilan itu tidak hanya di Surabaya-Malang. Warna lain tersebut menjamur dimana-mana. Sebut saja Lamongan, Sidoarjo, Kediri, atau Bojonegoro. Setiap ada pertandingan di stadion kota-kota tersebut, selalu menyeruak warna dan simbol di luar tim kebanggaan suporter setempat. 

Kebiasaan yang sama itu menjalar ke dataran Jawa lainnya. Bandung dan Jakarta misalnya. Senantiasa ada hijau-warna Persebaya-di tengah lautan biru saat Persib berlaga. Bukan saja di Stadion Siliwangi, Bandung, tapi juga di Stadion Si Jalak Harupat, Soreang. Jakarta tak berbeda. Warna biru-identitas Arema-nyaris tidak pernah ketinggalan bergumul dengan warna oranye ketika Persija bertanding. 

Aneh dan tentu saja sulit dinalar. Apalagi, kemunculan warna lain itu di tengah-tengah suporter yang kini begitu fanatik terhadap kesebelasannya. Bahkan, juga di saat ada yang menyombongkan diri bahwa sepak bola adalah agama keduanya.

Tapi, justru di tengah fanatisme dan penyombongan diri itulah mereka ternyata tak mampu memaknai kesucian warna dan atribut klubnya. Para suporter justru melenggang santai ke stadion dengan seragam tim lainnya. Mereka juga begitu bersemangat membentangkan tinggi-tinggi syal bertulis klub lain. 

Entah apa yang ada di hati mereka. Yang jelas sulit menakarnya. Seperti halnya yang terjadi di Gelora Bung Karno, Jakarta, pada 30 Mei 2010 silam. Seperti tanpa dosa, ribuan suporter Persija turut larut dalam suka cita Aremania yang merayakan gelar juara yang direbut Arema. Padahal, ketika itu Singo Edan-julukan Arema-mempermalukan Persija dengan skor yang sangat-sangat mencolok 5-1. 

Atau laku yang dijalankan Bobotoh selama ini. Mereka seperti menanggalkan sejarah tim kebanggaannya. Mereka alpa bahwa Persib pernah dilukai Persebaya pada kompetisi 1987/1988. Untuk memuluskan langkah meraih makhota juara, Persebaya sengaja bermain imbang 1-1 dengan Persija. Strategi itu dipilih untuk menyingkirkan Persib. Hasil seri itu agar Maung Bandung-julukan Persib-tidak lolos ke semifinal. Bagi Persebaya, Persib harus disingkirikan karena merupakan sandungan terbesar merebut juara. 

”Kalau sampai kami bertemu Persib di final berarti bagi kami juara. Secara materi mereka sangat bagus dan secara geografis juga lebih dekat ke Jakarta sehingga bakal didukung lebih banyak suporternya,” cerita Mustaqim, striker Persebaya kala itu. Pilihannya Persib harus dihentikan tanpa harus melawannya. Strategi itu akhirnya mengantarkan Persebaya ke podium juara. Dan kini Bobotoh lupa akan rasa sakit itu.

Naif memang fenomena warna lain ini. Apalagi, warna lain ini juga menyuburkan permusuhan. Mereka yang tak pernah bersinggungan justru kini dengan ringan saling melepaskan caci-maki. Juga dengan mudah saling melukai, bahkan menghilangkan nyawa yang lainnya. 

Mereka melupakan orientasinya : bahwa suporter ada, suporter lahir untuk memberi dukungan kepada tim kesayangannya. Tidak lebih. Suporter bukan partai politik. Jadi tak sepantasnya berkoalisi.

sumber - http://arekmantup.blogspot.com/2014/02/disorientasi-suporter.html
Minggu, 25 Januari 2015

Persija Jakarta vs Gamba Osaka 24/01/2015


Friendly Match : Persija Jakarta (Indonesia) vs Gamba Osaka (Jepang) : 0-4
Gelora Bung Karno Stadium, Jakarta
Persija Jakarta (The Jak Mania)










Kamis, 23 Oktober 2014

Riot Persis fans vs Police 22/10/2014


Persis Solo vs Martapura FC 22/10/2014
Std.Manahan Solo
Divisi Utama Liga Indonesia 2014 ( 8 Besar )
Riot Persis fans vs police today, 1 of fans died after being shot in the chest by Police
RIP Joko Riyanto ( Pasoepati, Persis Solo Fans )
#ACAB



















VIDEO = 



Sabtu, 18 Oktober 2014

Apa Itu Rasis ? By, Hinca Panjaitan


Kedatangan Hinca Panjaitan ke Malang untuk menengok pagelaran babak delapan besar Indonesia Super League [ISL] 2014, Minggu (12/10), dimanfaatkan betul oleh sejumlah awak media. Utamanya untuk mengetahui prosedur bagaimana komisi disiplin [komdis] yang diketuainya untuk menanyakan beberapa hal.

Salah satu hal yang ditanyakan adalah soal lagu rasis. Hal ini terkait dengan banyaknya sanksi yang diberikan oleh komisi disiplin tentang rasis. 

"Saya senang bisa berbicara dengan media, karena ini menjadi kesempatan bagi kami untuk menjelaskan hal itu. Biar, semua orang tidak menuduhkan kami hanya senang memberi sanksi tetapi enggan datang ke Stadion tanpa melihat langsung bagaimana proses," kata Hinca Panjaitan.

Hinca menjelaskan jika selama 90 menit pertandingan, Aremania memberikan suport kepada tim dengan sangat baik. Hinca sendiri menyatakan menolak jika lagu Aremania ada yang rasis karena dia punya pengertian soal itu.

"Rasis adalah perkataan ataupun ucapan yang bisa disuarakan lewat lagu-lagu yang membuat lawan merasa tidak nyaman di lapangan, selama 90 menit tidak ada perkataan rasis Aremania yang ditujukan kepada Persipura," kata Hinca.

Soal lagu kepada Bonek, Hinca menilai hal itu tidak dianggap rasis karena Persebaya tidak sedang bertanding. Tetapi, sebenarnya pernyataan Hinca terlihat ambigu mengingat beberapa bulan lalu Arema terkena denda 250 juta dengan alasan menyanyikan lagu rasis. Jelas laga itu bukan melawan tim yang di lapangan karena ada pada saat Arema bertemu dengan Persija, 18 Mei 2014.

"Bukan, bukan karena itu. Nanti saya lihat dokumennya. Memang perlu diskusi yang sangat panjang untuk hal ini, tidak cukup di bahas dalam jumpa pers," kata Hinca yang membuat diskusi itu mengambang sejenak dan langsung beralih mendiskusikan flare.

Anda setuju?

Link - www.wearemania.net

Kasta Manusia Di Stadion


"KASTA MANUSIA DI STADION"

1. MURNI SUPPORTER

Orang yang dikategorikan dalam kelompok ini adalah orang yang memiliki jiwa supporter, dari rumah memang sudah niat mau mendukung tim secara total dan ketika sampai di stadion pun orang ini pasti langsung merapat ke tribun Supporter untuk bergabung bersama kawan supporter lainnya. Orang tipe ini mudah dikenali, PASTI MEMAKAI ATRIBUT, atau identitas Supporter. #Cek aja deh kalo ga percaya

2. PENONTON

Yaks, PENONTON.. orang yang dari rumah berdandan sangat rapih kadang membawa anggota keluarganya dan duduk di tribun tertutup atau terbuka namun dia hanya duduk manis menyaksikan laga berjalan sambil sesekali mengeluarkan rasa gemas terhadap pertandingan yang seru. Orang tipe ini biasa kalau terpancing oleh permainan pemain lawan ia akan melempar barang-barang yang ada (Botol, Kertas, Plastik jajan dll)

3. PENIKMAT BOLA.

Orang tipe ini datang hanya untuk menikmati jalannya pertandingan kedua tim. Sambil berkomentar tentang pertandingan tersebut dan tak jarang sedikit emosional koment nya.. hingga kata kasarpun keluar
orang tipe ini gampang memancing emosi supporter tamu lewat aksinya.
Ciri Ciri: Pakaian Bebas (gak rapi, biasanya pake kaos bola), duduk di tribun umum.

4. PEDAGANG ASONGAN.

yaks, pasti tau lah orang tipe ini..
datang berdandan seadanya sambil membawa barang dagangannya, tanpa ada niat sama sekali untuk menyaksikan pertandingan..
Tapi kadang kasian sama Orang tipe ini, karena biasanya orang ini yang selalu MENJADI KORBAN bila ada GESEKAN bahkan CHAOS antar supporter
Senin, 14 Juli 2014

History Of Ultras Gresik


Dengan 13 personel untuk mendukung sebuah tim besar pada masanya komunitas yang benama Ultras berangkat ke Solo guna mendukung tim kebanggaan Kota Gresik ,remaja asli Gresik “LUKI” seorang mahasiswa Malang pada waktu itu memberikan nama pada rombongan itu dengan nama ULTRAS yang bermakna Ulah Trampil dan Rasional.

ULTRAS MEMANG SLALU "ANARKI" .?


ULTRAS MEMANG SLALU "ANARKI" .?

yaps, yang dimaksud disini adalah ANARKI atau ANARKISme dalam arti sebenarnya bukan dalam arti wartawan media massa atau pemerintahan loh.. ANARKI adalah paham yang mengejar KEMERDEKAAN INDIVIDU tanpa negara sebagai regulator/otoritas yang selalu memaksa didalam pelaksanaan tugasnya.

Indonesian Suporter "Save Gaza"


Indonesian Suporter "Save Gaza"
Konflik yang ada di Gaza,Palestina yang memakan banyak korban jiwa . Membuat Beberapa suporter di Indonesia turut peduli dengan konflik disana . Berikut beberapa foto Suporter Indonesia yang membuat atraksi tentang "save gaza"

父 ULTRAS IN INDONESIA | SUPPORT YOUR LOCAL TEAM | 12 ALL BROTHERS 父

Updates Via E-Mail

Popular Post

Article

Best Photo

Video