Diberdayakan oleh Blogger.
 
 
Tampilkan postingan dengan label Article. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Article. Tampilkan semua postingan
Kamis, 02 Juli 2015

Anarkisme dan Kesalahkaprahan Maknanya dalam Sepakbola


Agak menggelikan rasanya ketika tahu bahwa di zaman digital seperti saat ini terma ‘anarkisme’ masih saja ditafsirkan sebagai ‘sumbu’ keonaran. Terlebih jika ‘anarkisme’ dikontekstualisasikan ke dalam lingkup sepakbola, maka purna sudah salah satu ideologi yang paling ‘manusiawi’ tersebut menjadi faktor pertama penyebab mengapa barbarisme peradaban tak kunjung selesai. Pemikiran dangkal seperti itu sudah saatnya dibabat. Anarkisme dalam sepakbola bukanlah sebuah dosa yang harus masuk ruang purgatori.

Ada sebuah kisah. Pada tahun 1950, terdapat seorang anak muda berusia 18 tahun dari Italia bernama Pietro Ferrua. Ia dijatuhi hukuman 15 bulan penjara oleh pemerintah setempat lantaran dianggap melakukan makar. Tuduhan yang bukan main-main untuk anak seumurnya. Pun demikian, rupanya nyali Ferrua cukup besar, kendati otot-otot tubuhnya tak selayaknya pendekar. Oleh karenanya, ia pun melarikan diri, kabur ke segala arah mata angin. Hingga kemudian propagandis anti-negara itu singgah di Swiss.

Di Swiss, yang dikenal sebagai negeri dengan tingkat toleransi tinggi tersebut, Ferrua tak lantas bertaubat jadi pemuda ‘baik-baik’. Ia terus menyebarkan pemikirannya, membuat lingkar diskusi, menulis banyak pamflet dan artikel, seraya bertahap membangun sebuah perpustakaan yang kebanyakan berisi literatur pemikiran anti-otoritarian. Singkat kata, di Swiss, proses intelektualisasi Ferrua berkembang pesat.

Akan tetapi, kegiatan politik Ferrua—yang memang didasari ide-ide ekstrim—lama-lama mengusik keberadaan para politisi Swiss. Kebanyakan dari mereka bahkan menyerukan agar Ferrua segera angkat kaki dari negeri kecil itu. Pada tahun 1963, Ferrua pun minggat, tetapi tidak dengan pemikirannya. Pasca kepergiannya, solidaritas kolektif anarko di Swiss saling membantu untuk menyelesaikan perpustakaan yang sempat dibangun Ferrua.

Hingga hari ini, perpustakaan tersebut masih berdiri kokoh dan menyedot banyak kutu buku. Tak hanya sebagai rumah berbagai jenis buku, perpustakaan yang dinamai CIRA: International Centre for Research on Anarchism, dan terletak di kota Lausanne itu juga berfungsi sebagai pusat kajian riset untuk segala ide-ide anarkisme.

Koleksi CIRA kini sudah mencakup ribuan buku. Di antaranya adalah buku-buku—dan juga berlembar-lembar artikel—karangan para pemikir anarkis seperti Petr Kropotkin, Pierre-Joseph Proudhon, Mikhael Bakunin, atau Emma Goldman. Selain itu, hanya di CIRA Anda dapat menilik dokumen Paris Commune 1871, poster-poster asli Spanish Revolution yang dibuat oleh para seniman Catalonia pada tahun 1930-an, surat-surat kabar bawah tanah yang dibuat oleh imigran Italia dan terbit secara berkala sejak tahun 1922-1971, hingga segala informasi tentang Freetown Christania, barisan orang yang memproklamirkan diri sebagai masyarakat otonom di Copenhagen, yang dulu pernah menduduki pangkalan militer di sana sebagai “kampung halamannya”.

Satu hal menarik yang dapat dijumpai di CIRA adalah pamflet Anarchist Football (Soccer) Manual (selanjutnya ditulis AFM). Sebuah pamflet yang diinisiasi oleh Gabriel Kuhn (seorang mantan pesepakbola semi profesional yang kemudian beralih menjadi seorang intelektual anarkis Austria pada tahun 1990). Anda dapat membaca bukunya yang berjudul ‘Soccer vs. the State: Tackling Football and Radical Politics‘ dan segala informasi tentang Alpine Anarchist Productions, sebuah lingkar diskusi kolektif yang juga merupakan bentukan Kuhn.

Munculnya pamflet AFM dimulai pada Piala Dunia 2006 lalu. AFM berisi seruan untuk menolak sepakbola modern yang dianggap dikendalikan oleh kalangan menengah atas demi komersialisasi dan kepentingan kapital. Lebih dari itu, para penggagas AFM menilai bahwa industrialisasi sepakbola saat ini telah mengeksploitasi daya saing alamiah manusia hingga sedemikian rupa, yang kemudian mengikis rasa solidaritas antar sesama individu/ kolektif.

Sejatinya, upaya awal Against Modern Football yang digagas dalam AFM adalah bukan dengan memboikot segala produk klub sepakbola dan menolak menonton ke stadion, tetapi justru dengan ide radikal yang cukup unik: menolak bermain bola secara kompetitif. Apa maksudnya “bermain bola tidak kompetitif”? Bagaimana pula bentuk permainannya?

Penjelasan teknisnya adalah mulailah bermain bola secara tradisional. Maksudnya, silakan ajak sebanyak mungkin orang untuk bermain dengan cara ‘open-ended pick-up games‘ atau untuk bersenang-senang. Siapa saja dapat ikut bermain sampai mereka merasa bosan. Untuk mengurangi “loyalitas” berlebih kepada salah satu tim, setiap pemain dipersilakan untuk bermain di tim lawan. Singkat kata: ciptakan sepakbola murni sebagai sebuah permainan, bukan persaingan. Kesenangan, tanpa kebencian.

Sejatinya, jauh sebelum Kuhn dkk. menawarkan prototipe cetak biru ‘anarkisme sepakbola’, barisan pemikir anarkis di Argentina pada tahun 1908 telah lebih dulu melakukan hal tersebut dengan membentuk sebuah klub bernama Atletico Libertarios Unidos (Libertarians United), sebagai bentuk perlawanan terhadap pemerintah yang menganggap mereka subversif.

Dua tahun sebelumnya, sebuah klub bernama Argentinos Juniors juga didirikan oleh para martir Anarkis di Argentina sebagai bentuk kehormatan para pejuang Haymarket Anarchists dan Chacarita Juniors. Dengan semboyan “In soccer you learn how to act in solidarity”, Argentinos Juniors memakai seragam berwarna merah-hitam—yang merupakan warna identitas gerakan anarkis—sebagai simbol perlawanan. Warna seragam yang di kemudian hari juga turut dipakai klub sepakbola anarkis lain di Uruguay bernama Progreso Uruguay.

Di tahun 1912, mereka yang merasa sebagai bagian dari kelas pekerja miskin di Kroasia juga menggagas ide yang sama dengan mendirikan sebuah klub bernama RNK Split of Croatia. Selain sebagai tempat untuk bermain bola sesama pekerja, RNK Split of Croatia juga turut berperan dalam persebaran ide-ide anarkis ke segenap pekerja lain di seantero negeri.

Sementara itu, seperti Saint Pauli di Jerman, FC United of Manchester juga didirikan dengan itikad anarkisme yang kuat. Mereka menamai spirit pemberontakan tersebut ‘Spirit of Shankly’, dengan jargon: “I dont have to sell my soul!”. Baik suporter kedua klub yang bermarkas di Jerman dan Inggris itu sama-sama paling vokal dalam menyerukan pesan-pesan Against Modern Football: bahwa (sebuah klub) sepakbola harus didasari pada kepentingan penggemar, bukan sekadar sebagai pabrik pencetak fulus dan sekrup kapitalisme.

Karena militansi suporternya tersebut, FC United of Manchester pun disebut sebagai ‘Punk of Football’. Entah kebetulan atau tidak, FCUM pun menamai konsep manajerial keuangan mereka dengan slogan: ‘punk finance’, yaitu cara mendanai klub tanpa masukan dari bank-bank maupun korporasi besar. Sungguh berbeda sekali dengan FC Manchester United yang dalam beberapa periode dicap sebagai perusahaan paling dibenci di Britania Raya karena terlalu sering (mudah) meraih keuntungan besar.

Masih di Inggris, tepatnya di Bradford, para anarkis juga turut membuat sebuah turnamen sepakbola berdasarkan 12 tim tiap perayaan Mayday pada tanggal 1 Mei. Hal tak jauh berbeda dilakukan klub-klub di Bristol, seperti Cowboys Easton dan Cowgirls, yang berisikan para pemain dari masyarakat sekitar. Pada Piala Dunia 1998, Cowboys Easton dan Cowgirls bahkan menyelenggarakan turnamen ‘Piala Dunia’ tandingan. Momen tersebut lantas mendunia hingga membuat Subcomandante Marcos, salah seorang aktivis Zapatista, mengundang mereka dalam turnamen sepakbola yang mereka bentuk sendiri di Chiapas, Meksiko.

Berbicara tentang Subcomandante Marcos, kita harus melihat masa silam, tepatnya pada 1 Januari 1994, untuk mengetahui sejarah singkatnya. Ketika itu, Marcos mengomandoi sekitar tiga ribu orang Indian Maya bersenjata yang menyebut diri sebagai Tentara Pembebasan Nasional Zapatista (Ejército Zapatista de Liberación Nacional-EZLN) yang bersifat otonom, untuk menyerbu negara bagian Chiapas, Meksiko dari pengunungan Lacandon. Istilah Zapatista sendiri memiliki arti orang orang Zapata, merujuk keterkaitan emosional mereka dengan pejuang Meksiko pada 1911, Emiliano Zapata.

Adapun penyerbuan tersebut dilakukan sebagai bentuk protes atas kebijakan pemerintah Meksiko yang ikut menandatangani draft perdagangan bebas NAFTA (North America Free Trade Agreement) bersama Kanada dan Amerika Serikat. Draft tersebut disinyalir akan menjadi preseden buruk bagi para petani adat setempat. Sebab melalui perjanjian tersebut, para petani yang notabene hanya memiliki alat pertanian alakadarnya, harus bersaing dengan berbagai perusahaan pertanian raksasa yang menggunakan peralatan canggih dan lengkap.

Dengan balutan balaclava (topeng ski hitam), tiga ribu tentara Zapatista tersebut kemudian berhasil menduduki tujuh kota, di mana antaranya adalah San Cristobal de las Casas, Ocosingo, Las Margaritas, Altamirano, Chanal, Oxchuc dan Huixan. Akibat serbuan tersebut, konflik bersenjata pun tak dapat terhindarkan antara pihak Zapatista dengan tentara pemerintah.

Pun demikian, sebelum konflik berkembang makin luas, rakyat Meksiko lebih dulu tergerak untuk menyerukan perdamaian. Perang pun hanya berlangsung 14 hari dengan 40 korban tewas di pihak pejuang dan 100 di pihak tentara pemerintah. Sejak itu Zapatista kembali ke Pegunungan Lacandon dan melancarkan perang ‘gaya baru’ yang lebih mengedepankan kata-kata ketimbang mitraliyur atau lars sepatu. Marcos sendiri yang menjadi ujung tombaknya.

Marcos, yang juga memiliki rupa yang ikonik karena pipa rokok yang selalu dihisapnya di balik balaclava, memang seorang pejuang kemanusiaan terunik yang lahir di abad ke-20. Ia tak hanya lihai dalam merancang strategi revolusi yang penuh dentuman dan senapan di medan perang, tetapi ia juga seorang aktivis literasi yang jenius. Sejak tahun 1992 hingga 2006, ia tercatat telah menulis lebih dari 200 esai, cerita, serta 21 jilid buku dengan total 33 edisi. Dan nyaris kesemua karyanya tersebut diciptakannya pada masa konflik, di mana para tentara Zapatista harus naik turun gunung menyusuri lembah demi bersembunyi dari serbuan pasukan militer pemerintah Meksiko.

Kata-kata yang ditulis Marcos memang menggugah. Sasaran pembacanya pun beragam, mulai dari kalangan intelektual menara gading, hingga buruh-buruh dan rakyat miskin kota. Kendati dalam setiap tulisannya—terlebih dalam setiap artikelnya—selalu mengandung pesan anti-neoliberalisme, tetapi Marcos tak hanya sekadar memuntahkan opini belaka. Ia selalu menyampaikan gagasannya lengkap dengan kaidah-kaidah ilmiah yang ketat dan kerangka teoritis yang kokoh.

Aktivitas literasi Marcos yang tak pernah mengenal jeda selama puluhan tahun akhirnya berhasil membuat mata dunia dengan situasi sesungguhnya yang terjadi di Meksiko, terlebih di Chiapas. Hal ini pula yang kemudian membuat Massimo Moratti, sang presiden Inter Milan, menyatakan sikap setuju terhadap ‘tantangan’ Marcos melalui surat pribadi yang dikirimnya agar Nerazzurri bersedia bertanding dengan kesebelasan EZLN yang terdiri dari para tentara Zapatista pada tahun 2005 lalu.

Hubungan antara Inter dengan EZLN sendiri tidak terjadi begitu saja, sebenarnya. Sedikit penjelasan, Meksiko adalah salah satu dari 14 negara berkembang yang menjadi lokasi Inter Campus, semacam badan amal milik La Beneamata yang, selain menjadi sekolah sepakbola, juga kerap memberikan bantuan kepada anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu—tercatat sudah sekitar 10.000 anak yang dibantu oleh program ini—atau klub-klub olahraga setempat. Termasuk juga perbaikan saluran air dan layanan kesehatan. Di Chiapas sendiri, pada tahun itu, Inter Campus juga sudah kerap membantu proyek kemasyarakatan.

Dalam surat ‘tantangan’ tersebut, Marcos juga secara kocak menyampaikan berbagai rincian teknis, termasuk ‘peringatan’ agar Inter tidak lupa membawa bola karena semua bola milik Zapatista sudah bocor. Selain itu, ia juga menambahkan bahwa pada saat itu, tim EZLN tengah berlatih tendangan penalti karena ia yakin laga nanti akan diakhiri dengan babak tos-tosan. Marcos menulis, dengan nuansa humor yang segar,

“Because of our support for your team, we do not plan to immerse your team with our goals.”

Marcos pun menjelaskan dalam surat tersebut bahwa ia juga berencana akan mengundang Diego Maradona sebagai wasit, lalu Jorge Valdano dan Javier Aguirre akan menjadi asisten. Socrates, salah seorang legenda Brasil yang mahsyur itu, diplot sebagai wasit keempat. Sementara itu, Eduardo Galeano dan Mario Benedetti akan menjadi komentator di televisi ala Zapatista yang disebut ‘Zapatista System of Intergalactic Television, the only tv to be read not watched’.

Kapten Inter, Javier Zanetti, menjadi pemain Nerazzurri yang paling bersemangat mengetahui kabar tersebut. Pesepakbola Argentina yang tatanan rambutnya nyaris tak pernah berubah selama bertahun-tahun itu memang dikenal sebagai aktivis sosial ketika berada di luar lapangan. Ia pun juga pernah menyurati Marcos serta memberikan dana bantuan berupa uang pribadi sebesar 5000 euro pascapenyerangan paramiliter yang menimpa Zapatista di sebuah desa di perbatasan Meksiko-Guatemala.

“We believe in a better world, in an unglobalised world, enriched by the cultural differences and customs of all the people. This is why we want to support you in this struggle to maintain your roots and fight for your ideals,” tulis Zanetti ketika itu.

Akan tetapi, pada akhirnya pertandingan tersebut urung dilaksanakan. Banyak yang menduga bahwa sikap setuju Moratti tersebut merupakan strategi untuk mengeruk minyak Meksiko yang memang berpusat di Chiapas. Dugaan ini—selain bermula karena melihat latar belakang Moratti yang memang seorang baron minyak tersohor—secara terang diungkapkan pertama kali melalui sebuah artikel di The Christian Science Minor, yang ditulis oleh Danna Harman pada 2 Agustus 2005 dengan judul: It Will All Be Made in the Next Zapatista Memo.

Tak hanya itu, Hugh Dellios, salah seorang jurnalis senior di Amerika, melalui investigasinya di lapangan, juga menuliskan sebuah artikel berjudul Masked Rebel Leader Has a New Cause in Mexico pada tanggal 14 Agustus 2005 di koran Chicago Tribune. Pascakemunculan dua artikel tersebut, tak ada kabar yang jelas mengenai kelanjutan tentang laga antara Inter dengan tim EZLN. Pun demikian, Inter Campus masih tetap melanjutkan misi kemanusiaannya di Chiapas. Termasuk dengan sikap Zanetti yang hingga saat ini masih tetap memberikan dukungan politiknya terhadap EZLN dan Marcos.

Kembali ke Swiss, pada pertengahan tahun 1975, segelintir aktivis sayap kiri yang ikut membidani lahirnya liga sepakbola yang dinamai Alternative Football League (nanti ditulis AFL), ‘menantang’ tim dari tentara yang dinamai: FC Soldatenkomitee, yang jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia kira-kira menjadi ‘tentara rakyat’.

Hal tersebut dilakukan para aktivis kiri tadi sebagai bentuk perlawanan terhadap kebijakan pemerintah yang mewajibkan setiap pemuda untuk wajib militer. Adapun nama yang digunakan oleh para aktivisi kiri tersebut untuk nama klub mereka adalah: FC Bakunin. Ditakik dari nama seorang filsuf penggagas paham Anarkisme: Mikhail Bakunin.

Pertandingan pun dimulai. Sebagai pemberitahuan, dalam timnya, FC Bakunin juga melibatkan dua anggota perempuan. Akan tetapi, mereka akhirnya kalah setelah melalui laga yang cukup sengit dengan skor 3-5 untuk keunggulan FC Soldatenkomitee. Kekalahan yang wajar mengingat persiapan mereka untuk laga itu hanya dilakukan dalam satu malam. Selebihnya: spontanitas.

Satu tahun kemudian, para aktivis kiri tersebut kemudian menggagas Fortschrittlicher Schweizer Fussballverband (atau dalam Bahasa Indonesia bisa diartikan Asosiasi Sepakbola Progresif Swiss) sebagai bentuk keseriusan mereka dalam mengembangkan AFL. Dalam perkembangannya, AFL bergerak secara klandenstin.

Mula-mula, AFL ‘hanya’ berhasil mengumpulkan 650 pesepakbola. Bahkan pada tahun 90-an, organisasi tersebut nyaris bubar dikarenakan terdapat krisis internal. Pun demikian, hingga hari ini, AFL tetap berdiri dan telah menjaring sebanyak 25 tim sepakbola, di mana ke-12 di antaranya adalah tim perempuan dan tujuh tim lain berasal dari Veteran’s League.

Melalui serentet fakta dan berbagai penjelasan singkat di atas, kesalahkaprahan masyarakat dalam menilai istilah ‘anarkisme’, khususnya dalam sepakbola, sudah sepatutnya mulai dikikis. Sebab nyatanya, ada sebuah bangunan moralitas yang kokoh dalam relasi keduanya yang tidak melulu bersifat destruktif sebagaimana yang kerap dituliskan di banyak media.

Akan tetapi, sebagian dari Anda mungkin masih akan ada yang bersikeras mengatakan bahwa sejarah anarkisme dalam perjuangannya juga kerap bersinggungan dengan kekerasan, termasuk dalam lingkup sepakbola. Jika benar demikian, mungkin Anda lupa bahwa cinta memang terkadang hanya bisa timbul melalui selongsong senapan, bukan lewat cokelat dalam Valentine’s Day.[]

sumber - http://anarkis.org/anarkisme-dan-kesalahkaprahan-maknanya-dalam-sepakbola/
Selasa, 03 Maret 2015

Artikel : Disorientasi Suporter

Warna Persebaya Surabaya adalah hijau. Tak pernah berubah. Dari dulu hingga sekarang. Tapi, dalam beberapa tahun belakangan selalu ada warna lain di tribun Gelora 10 November Surabaya. Begitupula di stadion anyar Surabaya : Gelora Bung Tomo. Selalu ada biru diantara hijau. 

Pemandangan yang ganjil. Perpaduan yang tak lazim. Bukankah biru merupakan warna kebesaran Arema Malang-tim yang selalu berada di seberang mata dan hati pendukung Persebaya, Bonek. 

Argumentasi yang mudah dipatahkan memang. Sebab, warna biru yang menyembul di Gelora 10 November maupun Gelora Bung Karno bukan seragam Arema. Tidakpula atribut Aremania-suporter Arema. Tapi, biru yang menjadi atribut Bobotoh-pendukung Persib Bandung. Kendati begitu, menyeruaknya warna biru itu sulit dinalar. Karena, sekali lagi, warna Persebaya adalah hijau. 

Warna lain seperti itu tak hanya di Surabaya. Di Stadion Kanjuruhan, Malang pun serupa. Setiap kali Arema bermain di stadion yang terletak Malang bagian selatan tersebut, selalu ada warna oranye di tribun. Juga di jalanan menuju stadion. Oranye yang merupakan warna Persija Jakarta saat ini (seragam terdahulu Persija adalah merah bata). 

Tak sekedar warna, tapi juga nama. Nyaris di seluruh laga Arema-bukan saja di Kanjuruhan-tidak sedikit Aremania yang membentang syal yang tak hanya tertulis nama tim kebanggaannya. Namun, syal yang menyandingkan nama Arema dan Persija. Padanan warna dan nama yang tentu saja terasa aneh.

Dan keganjilan itu tidak hanya di Surabaya-Malang. Warna lain tersebut menjamur dimana-mana. Sebut saja Lamongan, Sidoarjo, Kediri, atau Bojonegoro. Setiap ada pertandingan di stadion kota-kota tersebut, selalu menyeruak warna dan simbol di luar tim kebanggaan suporter setempat. 

Kebiasaan yang sama itu menjalar ke dataran Jawa lainnya. Bandung dan Jakarta misalnya. Senantiasa ada hijau-warna Persebaya-di tengah lautan biru saat Persib berlaga. Bukan saja di Stadion Siliwangi, Bandung, tapi juga di Stadion Si Jalak Harupat, Soreang. Jakarta tak berbeda. Warna biru-identitas Arema-nyaris tidak pernah ketinggalan bergumul dengan warna oranye ketika Persija bertanding. 

Aneh dan tentu saja sulit dinalar. Apalagi, kemunculan warna lain itu di tengah-tengah suporter yang kini begitu fanatik terhadap kesebelasannya. Bahkan, juga di saat ada yang menyombongkan diri bahwa sepak bola adalah agama keduanya.

Tapi, justru di tengah fanatisme dan penyombongan diri itulah mereka ternyata tak mampu memaknai kesucian warna dan atribut klubnya. Para suporter justru melenggang santai ke stadion dengan seragam tim lainnya. Mereka juga begitu bersemangat membentangkan tinggi-tinggi syal bertulis klub lain. 

Entah apa yang ada di hati mereka. Yang jelas sulit menakarnya. Seperti halnya yang terjadi di Gelora Bung Karno, Jakarta, pada 30 Mei 2010 silam. Seperti tanpa dosa, ribuan suporter Persija turut larut dalam suka cita Aremania yang merayakan gelar juara yang direbut Arema. Padahal, ketika itu Singo Edan-julukan Arema-mempermalukan Persija dengan skor yang sangat-sangat mencolok 5-1. 

Atau laku yang dijalankan Bobotoh selama ini. Mereka seperti menanggalkan sejarah tim kebanggaannya. Mereka alpa bahwa Persib pernah dilukai Persebaya pada kompetisi 1987/1988. Untuk memuluskan langkah meraih makhota juara, Persebaya sengaja bermain imbang 1-1 dengan Persija. Strategi itu dipilih untuk menyingkirkan Persib. Hasil seri itu agar Maung Bandung-julukan Persib-tidak lolos ke semifinal. Bagi Persebaya, Persib harus disingkirikan karena merupakan sandungan terbesar merebut juara. 

”Kalau sampai kami bertemu Persib di final berarti bagi kami juara. Secara materi mereka sangat bagus dan secara geografis juga lebih dekat ke Jakarta sehingga bakal didukung lebih banyak suporternya,” cerita Mustaqim, striker Persebaya kala itu. Pilihannya Persib harus dihentikan tanpa harus melawannya. Strategi itu akhirnya mengantarkan Persebaya ke podium juara. Dan kini Bobotoh lupa akan rasa sakit itu.

Naif memang fenomena warna lain ini. Apalagi, warna lain ini juga menyuburkan permusuhan. Mereka yang tak pernah bersinggungan justru kini dengan ringan saling melepaskan caci-maki. Juga dengan mudah saling melukai, bahkan menghilangkan nyawa yang lainnya. 

Mereka melupakan orientasinya : bahwa suporter ada, suporter lahir untuk memberi dukungan kepada tim kesayangannya. Tidak lebih. Suporter bukan partai politik. Jadi tak sepantasnya berkoalisi.

sumber - http://arekmantup.blogspot.com/2014/02/disorientasi-suporter.html
Sabtu, 18 Oktober 2014

Apa Itu Rasis ? By, Hinca Panjaitan


Kedatangan Hinca Panjaitan ke Malang untuk menengok pagelaran babak delapan besar Indonesia Super League [ISL] 2014, Minggu (12/10), dimanfaatkan betul oleh sejumlah awak media. Utamanya untuk mengetahui prosedur bagaimana komisi disiplin [komdis] yang diketuainya untuk menanyakan beberapa hal.

Salah satu hal yang ditanyakan adalah soal lagu rasis. Hal ini terkait dengan banyaknya sanksi yang diberikan oleh komisi disiplin tentang rasis. 

"Saya senang bisa berbicara dengan media, karena ini menjadi kesempatan bagi kami untuk menjelaskan hal itu. Biar, semua orang tidak menuduhkan kami hanya senang memberi sanksi tetapi enggan datang ke Stadion tanpa melihat langsung bagaimana proses," kata Hinca Panjaitan.

Hinca menjelaskan jika selama 90 menit pertandingan, Aremania memberikan suport kepada tim dengan sangat baik. Hinca sendiri menyatakan menolak jika lagu Aremania ada yang rasis karena dia punya pengertian soal itu.

"Rasis adalah perkataan ataupun ucapan yang bisa disuarakan lewat lagu-lagu yang membuat lawan merasa tidak nyaman di lapangan, selama 90 menit tidak ada perkataan rasis Aremania yang ditujukan kepada Persipura," kata Hinca.

Soal lagu kepada Bonek, Hinca menilai hal itu tidak dianggap rasis karena Persebaya tidak sedang bertanding. Tetapi, sebenarnya pernyataan Hinca terlihat ambigu mengingat beberapa bulan lalu Arema terkena denda 250 juta dengan alasan menyanyikan lagu rasis. Jelas laga itu bukan melawan tim yang di lapangan karena ada pada saat Arema bertemu dengan Persija, 18 Mei 2014.

"Bukan, bukan karena itu. Nanti saya lihat dokumennya. Memang perlu diskusi yang sangat panjang untuk hal ini, tidak cukup di bahas dalam jumpa pers," kata Hinca yang membuat diskusi itu mengambang sejenak dan langsung beralih mendiskusikan flare.

Anda setuju?

Link - www.wearemania.net

Kasta Manusia Di Stadion


"KASTA MANUSIA DI STADION"

1. MURNI SUPPORTER

Orang yang dikategorikan dalam kelompok ini adalah orang yang memiliki jiwa supporter, dari rumah memang sudah niat mau mendukung tim secara total dan ketika sampai di stadion pun orang ini pasti langsung merapat ke tribun Supporter untuk bergabung bersama kawan supporter lainnya. Orang tipe ini mudah dikenali, PASTI MEMAKAI ATRIBUT, atau identitas Supporter. #Cek aja deh kalo ga percaya

2. PENONTON

Yaks, PENONTON.. orang yang dari rumah berdandan sangat rapih kadang membawa anggota keluarganya dan duduk di tribun tertutup atau terbuka namun dia hanya duduk manis menyaksikan laga berjalan sambil sesekali mengeluarkan rasa gemas terhadap pertandingan yang seru. Orang tipe ini biasa kalau terpancing oleh permainan pemain lawan ia akan melempar barang-barang yang ada (Botol, Kertas, Plastik jajan dll)

3. PENIKMAT BOLA.

Orang tipe ini datang hanya untuk menikmati jalannya pertandingan kedua tim. Sambil berkomentar tentang pertandingan tersebut dan tak jarang sedikit emosional koment nya.. hingga kata kasarpun keluar
orang tipe ini gampang memancing emosi supporter tamu lewat aksinya.
Ciri Ciri: Pakaian Bebas (gak rapi, biasanya pake kaos bola), duduk di tribun umum.

4. PEDAGANG ASONGAN.

yaks, pasti tau lah orang tipe ini..
datang berdandan seadanya sambil membawa barang dagangannya, tanpa ada niat sama sekali untuk menyaksikan pertandingan..
Tapi kadang kasian sama Orang tipe ini, karena biasanya orang ini yang selalu MENJADI KORBAN bila ada GESEKAN bahkan CHAOS antar supporter
Senin, 14 Juli 2014

History Of Ultras Gresik


Dengan 13 personel untuk mendukung sebuah tim besar pada masanya komunitas yang benama Ultras berangkat ke Solo guna mendukung tim kebanggaan Kota Gresik ,remaja asli Gresik “LUKI” seorang mahasiswa Malang pada waktu itu memberikan nama pada rombongan itu dengan nama ULTRAS yang bermakna Ulah Trampil dan Rasional.

ULTRAS MEMANG SLALU "ANARKI" .?


ULTRAS MEMANG SLALU "ANARKI" .?

yaps, yang dimaksud disini adalah ANARKI atau ANARKISme dalam arti sebenarnya bukan dalam arti wartawan media massa atau pemerintahan loh.. ANARKI adalah paham yang mengejar KEMERDEKAAN INDIVIDU tanpa negara sebagai regulator/otoritas yang selalu memaksa didalam pelaksanaan tugasnya.
Sabtu, 10 Mei 2014

ANTI-MEDIA itu....


Anti media, hmm.. Apa sih sebenernya yang dimaksud Anti Media? Apa kita Anti terhadap surat kabar, Berita Tv, bahkan sampe membenci TV nya gitu? Apa Kita harus anti juga terhadap media lain seperti Handphone, kamera, komputer, sampai Internet? Begitu? Aku rasa gak semuanya Benar (begitu)..

Kamis, 06 Maret 2014

Pesan Singkat dari Eropa tentang "CASUAL CULTURE"

Eh bray, Sekarang lagi demam style casual yah? Hehe
Syukur deh semoga dengan gitu kalian juga sadar kalo Ultras itu bukan identik dengan hitam.
Tapi, ada yang masih ngganjel nih di rasa.. perasaanku rada gimana gitu kalo ada anak ngomong soal casual. Maap nih yee, ada beberapa individu yang menganggap bahwa casual itu harus merk ternama dan style nya gaya eropa hehe.

Sabtu, 07 Desember 2013

History Of Deltamania Sidoarjo , The Lobster


The Lobster Deltras Sidoarjo beruntung mempunyai pendukung setia seperti Deltamania. Selain andal memompa semangat dan rajin memberi masukan, Deltamania juga akrab dengan kelompok suporter lain.

Deltamania berdiri tanggal 16 Februari 2001 yang dibidani oleh 5 orang gila bola, yaitu M. Hassanudin (Bob Hasan), Reza Panggabean, Nur Wak, Budi Pamulung, dan juga Iwan Sumantri. Deltamania lahir sebagai buntut dari pindahnya Gelora Dewata (GeDe) Bali ke Sidoarjo dan berganti nama menjadi Gelora Putra Delta (GPD).
Jumat, 25 Oktober 2013

History Of Mitra Mania ( Mitra Kukar Kutaikartanegara )

Seiring eksistensi Mitra Kukar mengarungi kompetisi divisi 1 liga Indonesia pada tahun 2005 berdirilah satu-satunya kelompok suporter Mitra Kukar Militan yang menaungi seluruh Suporter yang ada banyak saat itu yakni Mitra Mania(MitMan).

Rabu, 23 Oktober 2013

Atraksi Itu Kontrol ?

Saya kali ini cuma mau sedikit sharing ya.. Ada pemikiran soal Koreo, Chant, dan atraksi para supporter di dunia ini, itu awalnya dari mana ya?
Ngobok ngobok kolornya mbah google tentang Ultras dan Hooligan muncul pemikiran kalau Koreo, chants, dan atraksi itu hanyalah sebuah kontrol terhadap kelakuan para supporter waktu itu. Yaa.. sebuah kontrol dari pihak TIM dan elemen lain kepada supporter agar
Sabtu, 07 September 2013

Nj Mania ( North Jak Mania ) History , Jakarta Utara Fans

Organisasi supporter Persitara Jakarta Utara, NJ (North Jak) Mania membeberkan berbagai prestasi yang mereka torehkan. Pemaparan rekor tersebut bertujuan melecut semangat pengurus NJ Mania yang baru dilantik.

Senin, 12 Agustus 2013

Dukung Timnas, Pasoepati: Bawalah Bendera Merah Putih ke Manahan

“Saya rasa untuk laga Timnas Indonesia menghadapi Filipina lebih bagus membawa Bendera Merah Putih daripada syal, saya harap anggota Pasoepati bisa melakukannya,”ujar sekjen Pasoepati Anwar Sanoesi.

Ya, larangan yang dikeluarkan panpel perihal penyalaan flares maupun smoke bomb disikapi positif oleh Pasoepati. Suporter militan asal Solo ini memang sering membuat suasan merinding di Stadion Manahan dengan menyalakan puluhan bahkan ratusan flares saat Persis Solo berlaga. Namun kali ini Pasoepati berjanji mematuhi larangan panpel agar suasana Manahan tetap kondusif.

“Kami sudah melakukan himbauan ke seluruh pengurus korwil agar mengkoordinasikan anggotanya terkait aturan yang diberlakukan panpel, semua pihak harus berusaha menjaga kondisi Manahan dan Kota Solo,”terang Anwar.

Menurut Anwar, pengurus Pasoepati sudah berkoordinasi dengan panpel terkait aksi one man one flag saat Timnas bertanding di Manahan, Rabu (14/8) mendatang. Panpel pun dikabarkan mempersilahkan aksi yang akan dilakukan Pasoepati tersebut.

Sementara terkait rencana kedatangan suporter luar Solo yang ingin memberikan dukungan kepada Timnas, Anwar selaku pengurus Pasoepati mempersilahkannya. Dirinya mengaku sudah dihubungi sejumlah perwakilan suporter terkait tiket untuk suporter luar Solo dan sudah mengkoordinasikannya dengan panpel.

“Tiket untuk kelompok suporter yang sudah menghubungi DPP Pasoepati sudah terkoordinasi, silahkan datang ke Solo namun karena ini Timnas, sebaiknya memakai atribut Timnas bukan kedaerahan.”pungkas Anwar.

Selasa, 06 Agustus 2013

History Of Smeck Hooligan , Psms Medan

Komunitas fans PSMS Medan ini "lahir" pada tahun 2003. Sejumlah pemuda yang fanatik dengan Tim Ayam Kinantan, kala itu melihat komunitas fans yang ada sudah tidak lagi punya mendukung semangat kebersamaan secara fair.

Wak Labu, Kebong, Loren, Akim Hasibuan, Didi, Agam, Jack R dan Icut, yang mahasiswa ITM ini, pada 30 September, kumpul di Jalan Pelangi No 5 Medan.


Tepat pukul 18.00 WIB, mereka mendeklarasikan komunitas untuk fans PSMS yang baru dengan nama Supporter Medan Cinta Kinantan (SMeCK). Diawali hanya dengan  20-an orang, kini komunitas yang punya anggota dari latar belakang berbeda dan dari sega usia, semakin berkembang.


"Sesuai nomor kartu anggota, sudah mencapai tujuh ribuan lebih, dan ratusan di antaranya perempuan," sebut Wak Labu. keanggotaannya sudah mencapai 34 basis dan komunitas ini juga terbentuk di Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi), Kalimantan, Palembang dan Aceh.


Selain memiliki kartu anggota, para Smeckers (sebutan anggota SMeCK Hooligan) punya salam ciri khas tersendiri. Salam "sada roha" atau satu hati.
Jika disebut "Smeck", disahut "Hooligan" dengan nada keras dan tegas sembari sembari memperlihatkan kepala tangan dengan melipat tiga jari di tengah.


Sedang jempol dan kelingking tegak berdiri. "Ini menandakan persaudaraan. Yang senior (dilambangkan ibu jari,red) membimbing adik-adik yang lebih muda (dilambangkan kelingking,red)," terang Wak Labu sambil memperagakan kepalan tangan kanannya.


Pria gempal yang ramah ini menambahkan, lahirnya SMeck ini dari rasa persekawanan, kemudian besar di kekeluargaan dan kuat di persaudaraan.


Dalam perjalanannya, sebutan pengiring dibelakang nama SMeck telah berganti sebanyak tiga kali. Pergantian itu menyikapi kreativitas dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang berkembang di lembaga komunitas ini.

Awalnya (hanya) SMeCK, kemudian SMeCK Football Club (FC), SMeCk Mania dan saat ini SMeCK Hooligan. "Tetapi pergantian itu dilakukan sesuai mubes (musyawarah besar,red), dengan ketentuan nama depan SMeCK tidak boleh dirubah," timpal Nata Mangunsong, ketua yang baru terpilih kembali untuk periode 2011-2014.
Jumat, 12 Juli 2013

Mengapa Rivalitas Suporter Terkesan Dibiarkan?

Hari-hari belakangan, makin marak berita mengenai aksi-aksi anarkis suporter, entah memang ada aktor intelektual di belakangnya, atau juga entah hanyalah oknum yang memanfaatkan keadaan. Tapi untuk kali ini, akan kami batasi sedikit untuk menyoroti mengenai “Rivalitas antar suporter” sebagai pokok bahasan.
Masih  belum jauh-jauh hari, Sabtu kemarin (22/6) terjadi aksi anarkis yang sudah menjurus sebagai aksi kriminal, yakni penyerangan kepada bus yang digunakan oleh pemain dan official Persib Bandung saat keluar hotel akan menuju ke stadion guna menjalani laga melawan Persija Jakarta. Belum ada sebulan sebelumnya, juga terjadi aksi anarkis saat Persis Solo melakoni laga tandang melawan PSS Sleman dalam laga lanjutan Divisi Utama LPIS. Kiper, I Komang Putra dilempar dengan menggunakan benda keras (botol beer, namun masih menjadi perdebatan) dan beberapa pemain mendapatkan teror bahkan dari pengurus klub lawan. Mungkin bila mau dirunut satu-persatu, banyak sekali laga sepakbola yang diwarnai aksi-aksi tidak sportif dan bahkan menjurus anarkis.

Dari kedua contoh kejadian diatas, ada hal yang menarik untuk dicermati. Setelah puluhan tahun ada berita-berita miring mengenai aksi anarkis suporter, kebanyakan adalah gesekan antar suporter yang dikarenakan ke-fanatisan berlebihan dalam hal mendukung tim kesayangan, sehingga ketika berjumpa dengan suporter rival otomatis menimbulkan emosi. Namun, dari dua contoh diatas, fenomena kini menjadi berkembang. Tak hanya sekedar gesekan antar suporter saja, namun kini angin telah berubah dan para pemain dari klub rival-lah yang menjadi sasaran aksi negatif ini. Memang pada jaman dahulu juga pernah ada kejadian pemain menjadi korban kebrutalan suporter lawan, namun fenomena akhir-akhir ini sepertinya makin liar berkembang tanpa ada upaya “pemangku kepentingan” hajatan sepakbola nasional untuk meredamnya.

Berita pun berkembang, tak hanya sebatas media-media mainstream, berita straight-set juga banyak beredar antar pengguna jejaring sosial seperti facebook dan twitter. Tentu saja dengan beragam cara penyampaian. Dari kesemuanya, baik dari kubu yang dirugikan maupun dari kubu yang dianggap biang keladi, masing-masing mempunyai argumen maupun pembelaan sendiri. Bila ditarik kesimpulan dari adu argumen dan pembelaan ini, akan jadi panjang pada perdebatan, suporter atau oknum suporter? Daripada susah-susah kami menyebutnya, lebih baik kita langsung bikin gap saja. Karena belum jelas siapa pelakunya, maka bila pelaku hanya beberapa gelintir saja, kita sebut dengan oknum siporter. Bila pelakunya lebih dari 10 orang dan mereka memang menyiapkan segala keperluan untuk memperlancar aksinya, maka kita sebut saja sekompi oknum suporter. Namun bila pelaku sangat banyak dan mungkin malah dalam kisaran ratusan jumlahnya, ya sebaiknya kita sebut saja dengan sebutan “oknumiyah wal jamaah wal psychoniyah”. Begitu saja daripada makin berlanjut perdebatannya, hehee

Bagaimana Komdis menyikapinya ?

Ada satu hal yang kami rasa aneh dalam kasus pelemparan bus pemain dan offisial Persib Bandung, jalas pemain dan klub yang merasa dirugikan, namun masih ada pertimbangam-pertimbangan lain dari sang manajer, Umuh Muchtar, untuk melaporkan kejadian ini kepada pihak yang berwajib. Padahal bila menilik dari kronologis kejadian, hampir dipastikan ini adalah kejahatan atau aksi kriminal yang terencana. Mana mungkin ada batu-batu gede di TKP? Atau mana mungkin botol-botol berisi bensin digunakan sebagai bom molotov, padahal baru beberapa hari yang lalu pemerintah menaikkan harga premium. Jawabannya satu, memang sudah ada perencanaan sebelumnya. Tapi yaaaa, kita tunggu saja apakah ada pelaporan dan penyidikan atas kasus ini.
Lantas, dimana peran PSSI sebagai federasi yang menaungi hajatan sepakbola nasional atas hal-hal yang bukan saja mencoreng nilai sportifitas, namun juga telah melanggar norma hukum yang berlaku ini? Dari jaman dulu hingga sekarang ini, tetap jawabannya hanya satu : angkat tangan, karena ini sudah masuk yuridis Kepolisian atas aksi kriminal yang terjadi.

Mengingat bahwa ketua Komdis PSSI saat ini, Hinca Panjaitan, pernah membuat desertasi mengenai penggunaan APBD untuk sepakbola dan juga menyinggung mengenai Lex Sportiva, tentu beliau mendalami akan batasan-batasan ini. Bahwa kita hidup dalam negara hukum dan sepakbola juga mempunyai peraturan tersendiri untuk mengakomodasi jalannya sepakbola 2×45 menit. Namun, kami merasa pesimis akan ada pengusutan kasus ini. Bahkan tahun lalu ketika Bonek terlibat kerusuhan melawan polisi dan dari kronologis kejadian memang mengarah pada kesalahan pihak Kepolisian, Komdis yang saat itu dijabat oleh Bernhard Limbong, juga tak bisa berbuat banyak.
Atas batalnya laga Persija melawan Persib ini, beragam komentar mengiringi pertanyaan mengenai kelanjutan laga ini. Tapi menurut dari kacamata kami sebagai P.S.K (Pengamat Sepakbola Koplaksiana) ada beberapa hal yang bisa dicermati. Laga dapat diputuskan Persija menang WO (walk out) bila tidak ada faktor force majeur. Tapi kendalanya, apakah penyerangan terhadap pemain dan official ketika belum tiba di tempat dilangsungkannya pertandingan itu tergolong faktor force majeur? Karena bila memang terkendala faktor force majeur, maka pertandingan bisa dijadwalkan ulang dalam laga tunda. Ini yang menjadi perdebatan, seandainya hal itu tidak tergolong faktor force majeur, tentu bisa jadi hal mudah begini : “Cara gampang agar menang tanpa bertanding adalah, cegat aja tim lawan biar nggak datang, dan tim kita dinyatakan menang WO”.

Dimana peran federasi untuk meredam gesekan antar suporter ?
Kembali pada topik utama kita kali ini mengenai Rivalitas Antar Suporter, serasa tak ada langkah nyata dari federasi untuk menciptakan iklim kondusif di persepakbolaan kita. Terutama di era dasawarsa terakhir kepemimpinan Nurdin Halid dan Djohar Arifin. KSN di Malang yang digagas oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun tak menyentuh secara eksplisit mengenai pemberdayaan suporter agar turut menjadi bagian perbaikan sepakbola nasional.

Dan apa hasil investigasi kami akan pertanyaan sederhana ini? Jawabannya cukup sederhana: Bahwa rivalitas antar suporter yang kian hari kian berkembang menjurus pada aksi anarkis ini adalah sengaja dipelihara untuk menjaga gap-gap antar suporter agar fanatisme berlebihan tetap tertanam kuat bagi masing-masing suporter. Dari segi pendekatan sosiologis, kami pernah bertanya pada salah satu dosen di Jogja mengenai fenomena suporter, beliau mengemukakan pendapatnya bahwa jargon “Mati, urip, toh nyawa, tetep mbela tim kesayanganku” memang menjadi faktor utama untuk menyuburkan fanatisme yang berlebihan. Dan jargon itu memang diciptakan dengan segala penyajian agar serasa bahwa suporter sendiri yang menginginkan jargon seperti itu. Jauh daripada itu, si pemangku kepentingan tetap akan bisa mengawal kepentingannya karena gap-gap yang tercipta secara periodik di tingkat suporter dan menyuburkan aroma rivalitas. Kalau sudah begini, maka suporter akan tercerai-berai dan kemungkinan besarnya adalah melupakan semangat persatuan dan kesatuan sebagai bagian dari sepakbola nasional. Mengapa para pemangku kepentingan hajatan sepakbola nasional takut kalau seandainya suporter bersatu, Nurdin Halid adalah contoh nyata.

Bila sudah begini, maka cita-cita Ronaldikin Taucho sebagai tokoh perdamaian antar suporter di Indonesia akan terasa sangat berat, karena menghadapi doktrin-doktrin yang tercipta di tingkat akar rumput. Rivalitas suporter itu yang bagaimana? Yaaaa menurut kami, rivalitas itu mendukung tim kesayangannya, Cules nyaman nonton ke Bernabeu dan Madridista nyaman nonton ke Nou Camp. Dan sebagai pelengkap akhir dari coretan ini, kami akan menampilkan hasil wawancara kami terhadap Sodrun atas kejadian beberapa hari yang lalu.

“Lhaaa, inyonge ya pilih mulih bae lah ora usah mangkat tanding. Ora apa-apa inyonge diarani pengecut, nyawane inyong luwih berharga timbangane mangkat tapi nyawa terancam. Ngapa toh nyawa kudu teka maring stadion, lha mengko bis’e diobong njur kepriwe je? Inyong mesti melu kobong, ora MATI SYAHID, tapi MATI SANGIT”
translate :
“Lhaaa, saya ya pilih pulang sajalah, nggak perlu berangkat bertanding. Tidak mengapa saya dibilang pengecut, nyawa saya lebih berharga daripada berangkat tapi nyawa terancam. Ngapain taruhan nyawa harus datang ke stadion, nanti busnya dibakar terus gimana? Saya pasti kebakar, bukan mati syahid, tapi mati sangit” (sangit = hangus terbakar)

sumber - http://olahraga.kompasiana.com/bola/2013/06/24/mengapa-rivalitas-suporter-terkesan-dibiarkan-571470.html

Selasa, 09 Juli 2013

History Of Banaspati Jepara (Barisan Supporter Persijap Sejati)

Mereka tanpa Tanpa kenal lelah, hujan , Panas serta meninggalkan semua pekerjaan, keluarga dan kepentingan lainya hanya demi Banaspati dan Persijap Jepara. Tanpa ada tendensi apapun hanya ada satu kata dukung persijap dengan penuh Ikhlas dan militan dengan mengedepankan sikap - sikap yang anti anarkis, mengedepankan jiwa persaudaraan, dan bersikap dewasa itulah tujuan awal dibentuknya Suporter BANASPATI dan yang selalu di doktrinkan kepada semua anggota.
BANASPATI yang saat didirikan merupakan sekumpulan pecinta Persijap yang pada awalnya bergabung denga Persijap Fans Club ( P F C) dan oleh H.EKsan ( Gembira Ria ), H Ali Anggoro, ( Ketua Sekarang), Como Hartanto ( Ketua pertama), Syaiful Huddin ( Sekjen pertama ), Anita ( bendahara pertama), Ali Shohib (Pjs penerus Como hartanto), dan Agoes Cumes ( HUMAS) Mas Sugeng Almarhum. Inilah orang orang yang pertama membentuk dan memberi nama Barisan Suporter Persijap Sejati. Ya, Tahun tepatnya tanggal 9 April 2002 Banaspati berdiri.
 Dengan logo Banaspati yang digambarkan oleh Ular Naga yang difilosofikan sebagai binatang yang kalem, merampat lambat tapi pasti, dan siap menerkam lawanya bila memang diusik yang dibuat oleh Syaiful Huddin, yang juga pemenang pembuat lomba Logo Persijap yang sekarang menjadi logo Persijap merupaka filosofi yang selalu dikedepankan oleh Para Pendiri Banaspati.
Dari hanya sekitar 50 Anggota yang saat itu dengan setia mendudkung Laskar Kalinyamat di Stadion Kamal Junaidi kini sudah ribuan anggota yang tergabung. Dari Para pendiri merasa Bangga bahwa Banaspati lahir benar - benar dari grassrot bukan ajakan atau iming - iming masuk stadion gratis inilah yang menjadikan Banaspati Besar.
  Walaupun demikian perjalanan Banaspati yang besar saat ini bukanlah tanpa rintangan.
Mulai dari dunkungan yang setengah hati dari Managemen Persijap saat itu,teror - teror terhadap para pengurus dan anggota dari orang - orang yang tidak suka atas kehadiiran BANASPATI bukan malah menjadikan BANASPATI tenggelam dan MATI. tapi menjadikan pemicu semangat oleh Para Pendiri untuk menyusun strategi pelebaran jaringan (KORWIL) ke seluruh Jepara. dengan mengedepankan doktrin menjadi Suporter yang Baik, atraktif, anti anarkis serta transparansi inilah yang menjadikan BANASPATI semakin Disukai oleh Banyak Orang.
BANASPATI sendiri pada awalnya sepakat diJepara hanya ada satu suporter. di Rumah Manager H.Soetiyono para Suporter, wartawan, suporter - suporter yang ada di Jepara. BANASPATI yang saat itu diwakili oleh Ali Shohib, Agoes Cumis, H,eksan dll bersedia melebur jadi satu suporter dengan catatan nama suporter masing - masing ditinggalkan. namun semua itu tidak tersjadi titik temu.
Setelah berjalan 3 tahun dengan perjuangan sedemikian, maka pucuk pimpinan silanjutkan oleh ZAINURROHMAN. iniah awal kebangkitan BANASPATI.dengan sosok Bang Zainur yang low profile dan mengakar dianggota, serta mengedepankan transparansi organisai serta komunikasi antar korwil BANASPATI semakin Besar. Pendekatan - pendekatan kepada semua elemen serta dukungan dari pengurus serta anggota yang tergabung yang sangat loyal. menjadikann BANASPATI semakin basar.
sedikit demi sedikt dukungan dari MANAGEMEN Persijap semakin kelihatan, dan dengan keyakinan BECIK KE TITIK OLO KETORO dan MENEBAR BENIH YANG BAIK PASTI HASILNYA AKAN BAIK itulah yang selalu diyakini oleh Para Pengurus bahwa pada akhirnya nanti kita Pasti besar. Meski cobanaan terus menerpa organisasi ini. mulai dari anggota yang dibantai teman sendiri di MAYONG, sampai gesekan didalam stadion dan ancaman - ancaman mau dibunuh kepada pengurus Banaspati.
Para Pendiri juga tentunya memberikan Apresiasi yang tinggi kepada Pengurus Sekarang H.SA"ADI, ROHMAD, WAKID, HEWEH, PUPON, dan banyak lagi atas dedikasinya serta perjuangan membesarkan BANASPATI.. LOYALITAS terjadap TIM dan Organisasi masih mengakar. doktrin menjadi suporter yang baik masih dipegang oleh anggota ( masuk membayar karcis, selalu atraktif, hindari anarkis,dewasa menerima apapun hasil pertandingan, transparansi keuangan, serta jalinan komunikatif pengurus dan anggota) masih dipegang oleh para pengurus.
Dan itu bisa dibuktuikan dengan bagaiman mereka membangun tempat kesekretariatan, beserta isinya yang sangat mengagumkan.. bagaiman saat ini semakin banyak anggota. kepentimngan - kepentimngan Pribadi dikesampingkan demi nama BESAR BANASPATI DAN PERSIJAP.
 
Senin, 01 Juli 2013

Duduk Diatas Kursi Roda, Jakmania Ini Kobarkan Semangat Di Kanjuruhan

Dua orang Aremania dan satu orang Jakmania dengan atribut orange tampak berhati-hati menaikkan kursi roda ke tangga tribun VVIP Stadion Kanjuruhan,  sementara itu diatas kursi roda  duduk Alexander Wiviano, Jakmania asal Jember Jawa Timur yang akan menyaksikan pertandingan Arema Indonesia menjamu Persija Jakarta malam nanti.

Sorot matanya tajam memandangi seluruh sisi Stadion Kanjuruhan Kabupaten Malang yang sudah dipenuhi oleh Aremania kendati pertandingan baru dilangsungkan tiga jam lagi. Dengan keterbatasan fisiknya, seolah-olah Vino ingin menunjukkan pada siapapun yang hadir di Stadion Kanjuruhan tentang arti semangat. “Bagi saya Persija itu semangat, meski saya menyandang disabilitas, Persija adalah segala-galanya bagi saya,”ungkapnya tegas.

Dalam pertandingan melawan Arema nanti, Vino berharap timnya mampu mempersembahkan hasil terbaik. “Harapan saya Persija bisa mendapatkan tiga poin,”tuturnya berapi-api.

Vino, sapaan akrabnya, mengucapkan terimakasih kepada Aremania yang sudah memberikan sambutan hangat pada Jakmania dan dirinya hingga sampai di Stadion Kanjuruhan. “Semoga persaudaraan ini dapat selalu dijaga. Hubungan baik tidak hanya di dalam stadion saja, tapi juga diluar stadion,”tandasnya.

Kamis, 13 Juni 2013

Asykar Theking History , Askar Bertuah

ASYKAR THEKING dideklarasikan pada tanggal 21 Desember tahun 2002, yang dilatarbelakangi oleh keikutsertaan PSPS pekanbaru pada liga indonesia. Sebelum asykar theking dideklarasikan sebagai supporter PSPS pekanbaru, telah dulu hadir dalam pertandingan kandang PSPS pekanbaru bahkan tidak jarang memberikan dukungan ketika pertandingan tandang. Melihat keadaan ini akhirnya beberapa kelompok ini sepakat berdiri dalam satu wadah guna memberikan dukungan total kepada asykar bertuah yang mana kemudian diberi nama asykar theking. Penggabungan dua kata ini merupakan mufakat bersama, asykar berarti pasukan, sedangkan theking diambil dari kata teking yang berarti ngotot ataupun dalam pergaulan sehari hari kalimat “theking“ merupakan sebutan kepada orang yang tidak mau kalah, namun agar istilah theking mempunyai makna yang luas, maka kata teking ditulis theking namun tetap dalam ucapan teking.

Semenjak berkiprah pada liga indonesia VIII 2002, asykar theking telah membuktikan diri sebagai supporter yang benar-benar memberikan dukungan kepada PSPS pekanbaru. asykar theking merupakan ujung tombak yang mengakomodir pendukung PSPS pekanbaru. Dan dalam beberapa kesempatan asykar theking sering mengadakan pertemuan dengan management dan pemain PSPS pekanbaru guna memacu dan memotivasi prestasi PSPS pekanbaru itu sendiri. Dan juga asykar theking tidak henti-hentinya mensosialisasikan keberadaan PSPS pekanbaru ini ke berbagai pelosok kota pekanbaru bahkan sampai seluruh provinsi riau dan juga berusaha mensosialisasikan ke berbagai kalangan.

Tradisi sepak bola yang belum mengakar di kota pekanbaru khususnya dan provinsi riau pada umumnya membuat sosialisasi asykar theking ini banyak mengalami kesulitan. Banyak tanggapan yang tidak seharusnya dilontarkan kepada pencinta PSPS pekanbaru ini yang notabene merupakan pendukung setia kesebelasan PSPS pekanbaru kebanggaan kota bertuah. Namun berkat kerja keras asykar theking dan pendukung beberapa pihak yang se-ide dan se-pemikiran, asykar theking sekarang tumbuh menjadi sebuah kelompok supporter yang sudah dikenal di indonesia. Memang tujuan dari berdirinya asykar theking selain memberikan dukungan kepada PSPS pekanbaru adalah menjalin persahabatan dengan supporter lain dan juga menjaga agar pertandingan PSPS pekanbaru berlangsung dalam keadaan kondusif.Harus diakui semenjak kelahiran asykar theking pertandingan kandang PSPS pekanbaru berlangsung tertib dan aman, karena asykar theking memberikan contoh kepada penonton lain dalam memberikan dukungan yang sportif kepada PSPS pekanbaru. Sebelum kehadiran asykar theking sering terjadi perpecahan dukungan antara penonton didalam stadion, hal ini mungkin terjadi karena penduduk pekanbaru yang heterogen (terdiri dari banyak suku daerah) dengan latar belakang budaya yang berbeda namun hal ini dapat berubah drastis dengan kehadiran asykar theking. Dan sampai saat sekarang ini dapat dipastikan seluruh penonton pertandingan kandang PSPS pekanbaru, sekarang satu suara memberikan dukungan untuk asykar bertuah.


Voetbal, Volksraad, dan Hari Sepakbola Hindia Belanda

Klub sepakbola dijadikan alat kampanye politik itu bukan barang baru. Jauh sebelum era Indonesian Super League, yang meliberalisasi praktik politisasi sepakbola, sepakbola sudah lazim menjadi alat kampanye.

Untuk menengok perulangan sejarah itu, kita bisa menengok kembali ke masa yang jauh, pada 1917, nyaris 100 tahun sebelum Alex Noerdin meng-Golkar-kan stadion Jakabaring di Palembang dengan serentetan gambar dirinya yang terpampang sejak dari tiket sampai papan iklan di pinggir lapangan.

Di suratkabar De Sumatra Post edisi 15 November 1917, saya menemukan sepucuk berita berjudul "Deli, de Volksraad en de Voetbal" (Deli, Dewan Perwakilan Rakyat dan Sepakbola). Kendati eksemplar De Sumatra Post yang saya temukan itu sudah buram dan di sana-sini tak terbaca, khusus berita berjudul "Deli, de Volksraad en de Voetbal" itu masih relatif jelas terbaca.

Dan di situ saya menemukan bagaimana sebuah klub sepakbola menawarkan dirinya menjadi bagian dari kampanye pemilihan anggota Volksraad. Nama klub itu adalah "Boeih Merdeka". Beberapa kandidat anggota Volksraad yang disebut dalam berita itu adalah Mr. Baradja, T. Moesa dan Dr. Abdul Rasjid. Nama yang terakhir itu akhirnya berhasil menjadi anggota Volksraad mewakili Sumatera Utara dan karier politiknya terus bertahan sampai kedatangan Jepang.

Sebenarnya tidak mengherankan jika Abdul Rasjid memanfaatkan sepakbola sebagai bagian penting kampanyenya. Saat masih bersekolah di STOVIA (sekolah kedokteran di masa kolonial), dia aktif bermain sepakbola bersama rekan-rekan di sekolahnya. Tak hanya main bola, dia juga menjadi pengurus klub sepakbola STOVIA. Seperti yang sudah ditulis dalam artikel Genealogi Sepakbola Indonesia bagian 5, STOVIA adalah klub yang diperkuat para pemain bumiputera pertama yang ikut kompetisi pertama yang pernah digelar di Jawa pada 1904.

Di suratkabar Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indie edisi 30 Agustus 1907, ada berita mengenai struktur kepengurusan klub sepakbola STOVIA. Dalam berita itu terlihat Abdul Rasjid menjadi Commissarissen van Materiaal (yang mengurus segala alat-alat dan perlengkapan). Selain Abdul Rasjid, nama lain yang menjadi Commissarissen van Material di klub STOVIA adalah Sam Ratulangi, orang Minahasa yang kelak menjadi tokoh penting dalam sejarah Indonesia.

Di Volksraad, Abdul Rasjid dikenal sebagai anggota Fraksi Nasional yang gigih mengkampanyekan penggunaan bahasa Indonesia dalam sidang-sidang di Volksraad. Pada periode 1938-1939, ada 7 anggota Volksraad yang menggunakan bahasa Indonesia yaitu Soangkupon, Suroso, Wirjopranoto, Jahja Datoek Kajo, Abdul Rasjid, MH Thamrin, dan Otto Iskandar Dinata [lihat buku Jahja Datoek Kajo: Pidato Otokritik di Volksraad 1927-1929, hal. 35].

Dan tahukah Anda, 2 nama terakhir setelah Abdul Rasjid yang saya sebutkan di atas (MH Thamrin dan Otto Iskandar Dinata) adalah para politisi yang sangat aktif mengurusi sepakbola, bahkan jauh lebih aktif daripada Abdul Rasjid.

MH Thamrin tak mungkin dipisahkan dari VIJ (cikal bakal Persija kelak). Dia bukan hanya secara rutin menonton pertandingan VIJ, tapi juga mengurusi banyak hal yang menjadi keperluan Persija, tak terkecuali lapangan sepakbola.

Disebut-sebut, Thamrin merogoh koceknya sendiri untuk menyediakan lapangan bagi VIJ di daerah Petojo pada 1932 (penelusuran saya menyebutkan lapangan VIJ itu bukan 1932, tapi 1936. Lihat surat kabar Bataviaasch Nieuwsblad edisi 16 Maret 1936).

Kesukaan Thamrin pada sepakbola pula yang membuatnya peduli dengan "kericuhan" menyusul tindakan rasis panitia kompetisi sepakboola NIVB di Surabaya yang pada 1932 melarang wartawan bukan kulit putih datang meliput. Larangan itu memicu gelombang protes, terutama dari surat kabar Sin Tit Po yang menyerukan boikot. Liem Koen Hian, hoodredacture/pemred Sin Tit Po, ditangkap atas dugaan memprovokasi kericuhan. Thamrin datang menyelidiki persoalan ini, terutama untuk memastikan agar Liem Koen Hian tidak diperlakukan semena-mena. Thamrin sampai mengajukan beberapa pertanyaan tertulis kepada aparat kepolisian saat itu.

Thamrin pula yang memimpin kesebelasan bentukan PSSI saat berkunjung ke Jepang pada 1939 --kunjungan yang sedikit banyak menjadi jawaban atas "kegagalan" PSSI terlibat dalam pengiriman tim Hindia Belanda ke Piala Dunia 1938 di Paris. Saat itu, Thamrin memimpin delegasi yang terdiri para siswa, dokter, dan beberapa kalangan lainnya. Ini adalah bagian dari kecenderungan politik Thamrin (dan beberapa aktivis pergerakan lainnya) yang mulai terkagum-kagum dengan Jepang (lihat Soerabaiash-Handelsblad edisi 1 Agustus 1936).

Jika Thamrin adalah politisi Betawi yang sangat peduli dengan VIJ, maka di tanah Parahyangan muncul Otto Iskandar Dinata. Sosok yang nama julukannya, Si Jalak Harupat, itu diabadikan menjadi stadion sepakbola di Soreang ini sangat peduli dengan Persib Bandung (berbeda dengan Persija yang bertahun-tahun lamanya masih menggunakan nama VIJ, sejak berdiri Persib sudah menggunakan nama Persib).

Banyak sekali laman atau artikel di internet yang menyebut-nyebut namanya sebagai Ketua Umum Persib Bandung. Itu sebenarnya keliru. Otto memang tak pernah melepaskan kepeduliannya pada Persib, tapi sesungguhnya dia tak pernah jadi Ketum Persib. Dia hanya pernah jadi Ketua Panitia Kongres PSSI di Bandung pada 1936 (lihat buku "Otto Iskandar Dinata: the Untold Stories" karya Iip D. Yahya).

Dia selalu terlibat dalam setiap acara yang melibatkan Persib, termasuk menjadi salah seorang offisial tim saat Persib untuk pertama kalinya menjadi juara Kejurnas PSSI pada 1937 di Solo. Surat kabar berbahasa Sunda yang dipimpinnya, Sipatahoenan, tak ubahnya seperti Pikiran Rakyat di masa pasca kemerdekaan: menjadi corong utama pemberitaan Persib Bandung.

Sebagai seorang aktivis pergerakan dan anggota Volksraad, Otto tak pernah melupakan latar belakangnya sebagai wartawan. Jika Sipatahoenan banyak memberitakan Persib, maka Otto juga menerbitkan majalah Olahraga yang sempat menjadi majalah resmi PSSI. Semua propaganda sepakbola PSSI pada dekade pertama kehadiran PSSI selalu melibatkan Otto melalui majalah Olahraga yang dipimpinnya.

Kecintaan dan kegemaran Thamrin dan Otto akan sepakbola sudah termasyhur di masa itu. Sampai-sampai, pada 16 Mei 1932, digelar pertandingan persahabatan dengan Thamrin dan Otto berada di dua kubu yang berseberangan. Pertandingan yang hanya berlangsung selama 1 babak itu berakhir 0-0.

Kesebelasan Thamrin saat itu diperkuat nama-nama seperti Dachlan Abdollah, L. Djajadiningrat, Dr. Kajadoe, Mokoginta, sampai Brata Moehjiddin. Sementara kesebelasan yang diperkuat Otto dipenuhi nama-nama yang lebih tenar seperti Dr. Boentaran Saragih, Parada Harahap, Soetardjo sampai Mr. Koesoema Atmadja.

Jika kini Persija (nama baru dari VIJ) dikenal juga karena perseteruannya dengan Persib, setidaknya catatan itu sudah dimulai sejak kesebelasan Thamrin bertandingan melawan kesebelasan Otto Iskandar Dinata.

Selasa, 04 Juni 2013

Sejarah Berdirinya Tempurmania ( Persekabpur Purworejo )

Berawal dari keikutsertaan klub sepak bola Purworejo di Kompetisi Divisi 3 Liga Indonesia musim 2010/2011, berawal dari obrolan dunia maya di Facebook (di grup PERSEKABPUR) antara beberapa pecinta sepak bola dari Purworejo tentang usulan pembentukan kelompok supporter untuk mendukung PERSEKABPUR Purworejo, maka lahirlah kelompok supporter yang selanjutnya kini bernama TEMPURMANIA.
Nama TEMPURMANIA bukanlah nama awal yang diusulkan sebagai nama kelompok supporter. Saat itu ada beberapa usulan nama, diantaranya KAPURMANIA, PORDJOMANIA, dll. Sebelum nama resmi diperoleh, salah satu dari orang-orang yang mengobrol di grup Facebook PERSEKABPUR (yang sekarang menjadi admin grup ini) berinisiatif membuat grup sebagai tempat mengobrol khusus untuk dulur-dulur kelompok supporter Purworejo (grup ini) yang dibuat sekitar hari Senin, 13 September 2010. Nama TEMPUR sendiri diusulkan oleh dulur Yonatan, singkatan dari Tifosi Mania Purworejo dan selanjutnya dicetuskan TEMPURMANIA (TIFOSI EXTREME PURWOREJO MANIA).
 

 
Kumpul pertama TEMPURMANIA diadakan pada hari Sabtu, 30 September 2010 yang dihadiri oleh 7 orang. Saat itu PERSEKABPUR sudah lolos ke Putaran 2 Divisi 3 yang akan dimainkan di Kota Banjar, Jabar. Pada pertemuan itu dibahas pembentukan dan pengembangan TEMPURMANIA yaitu pembuatan korwil-korwil serta membahas tour ke Jabar untuk mendukung PERSEKABPUR di Putaran 2. Akan tetapi tour tidak jadi karena saat itu kondisi belum memungkinkan. Bahkan sebenarnya TEMPURMANIA sempat tidak bertahan lama karena ada kesalahpahaman beberapa dulur TEMPUR. Tapi alhamdulillah akhirnya TEMPURMANIA masih eksis sampai sekarang.

sumber - tempurmania.net
父 ULTRAS IN INDONESIA | SUPPORT YOUR LOCAL TEAM | 12 ALL BROTHERS 父


Updates Via E-Mail

Popular Post

Article

Best Photo

Video