Diberdayakan oleh Blogger.
 
 
Jumat, 12 Juli 2013

Mengapa Rivalitas Suporter Terkesan Dibiarkan?

Hari-hari belakangan, makin marak berita mengenai aksi-aksi anarkis suporter, entah memang ada aktor intelektual di belakangnya, atau juga entah hanyalah oknum yang memanfaatkan keadaan. Tapi untuk kali ini, akan kami batasi sedikit untuk menyoroti mengenai “Rivalitas antar suporter” sebagai pokok bahasan.
Masih  belum jauh-jauh hari, Sabtu kemarin (22/6) terjadi aksi anarkis yang sudah menjurus sebagai aksi kriminal, yakni penyerangan kepada bus yang digunakan oleh pemain dan official Persib Bandung saat keluar hotel akan menuju ke stadion guna menjalani laga melawan Persija Jakarta. Belum ada sebulan sebelumnya, juga terjadi aksi anarkis saat Persis Solo melakoni laga tandang melawan PSS Sleman dalam laga lanjutan Divisi Utama LPIS. Kiper, I Komang Putra dilempar dengan menggunakan benda keras (botol beer, namun masih menjadi perdebatan) dan beberapa pemain mendapatkan teror bahkan dari pengurus klub lawan. Mungkin bila mau dirunut satu-persatu, banyak sekali laga sepakbola yang diwarnai aksi-aksi tidak sportif dan bahkan menjurus anarkis.

Dari kedua contoh kejadian diatas, ada hal yang menarik untuk dicermati. Setelah puluhan tahun ada berita-berita miring mengenai aksi anarkis suporter, kebanyakan adalah gesekan antar suporter yang dikarenakan ke-fanatisan berlebihan dalam hal mendukung tim kesayangan, sehingga ketika berjumpa dengan suporter rival otomatis menimbulkan emosi. Namun, dari dua contoh diatas, fenomena kini menjadi berkembang. Tak hanya sekedar gesekan antar suporter saja, namun kini angin telah berubah dan para pemain dari klub rival-lah yang menjadi sasaran aksi negatif ini. Memang pada jaman dahulu juga pernah ada kejadian pemain menjadi korban kebrutalan suporter lawan, namun fenomena akhir-akhir ini sepertinya makin liar berkembang tanpa ada upaya “pemangku kepentingan” hajatan sepakbola nasional untuk meredamnya.

Berita pun berkembang, tak hanya sebatas media-media mainstream, berita straight-set juga banyak beredar antar pengguna jejaring sosial seperti facebook dan twitter. Tentu saja dengan beragam cara penyampaian. Dari kesemuanya, baik dari kubu yang dirugikan maupun dari kubu yang dianggap biang keladi, masing-masing mempunyai argumen maupun pembelaan sendiri. Bila ditarik kesimpulan dari adu argumen dan pembelaan ini, akan jadi panjang pada perdebatan, suporter atau oknum suporter? Daripada susah-susah kami menyebutnya, lebih baik kita langsung bikin gap saja. Karena belum jelas siapa pelakunya, maka bila pelaku hanya beberapa gelintir saja, kita sebut dengan oknum siporter. Bila pelakunya lebih dari 10 orang dan mereka memang menyiapkan segala keperluan untuk memperlancar aksinya, maka kita sebut saja sekompi oknum suporter. Namun bila pelaku sangat banyak dan mungkin malah dalam kisaran ratusan jumlahnya, ya sebaiknya kita sebut saja dengan sebutan “oknumiyah wal jamaah wal psychoniyah”. Begitu saja daripada makin berlanjut perdebatannya, hehee

Bagaimana Komdis menyikapinya ?

Ada satu hal yang kami rasa aneh dalam kasus pelemparan bus pemain dan offisial Persib Bandung, jalas pemain dan klub yang merasa dirugikan, namun masih ada pertimbangam-pertimbangan lain dari sang manajer, Umuh Muchtar, untuk melaporkan kejadian ini kepada pihak yang berwajib. Padahal bila menilik dari kronologis kejadian, hampir dipastikan ini adalah kejahatan atau aksi kriminal yang terencana. Mana mungkin ada batu-batu gede di TKP? Atau mana mungkin botol-botol berisi bensin digunakan sebagai bom molotov, padahal baru beberapa hari yang lalu pemerintah menaikkan harga premium. Jawabannya satu, memang sudah ada perencanaan sebelumnya. Tapi yaaaa, kita tunggu saja apakah ada pelaporan dan penyidikan atas kasus ini.
Lantas, dimana peran PSSI sebagai federasi yang menaungi hajatan sepakbola nasional atas hal-hal yang bukan saja mencoreng nilai sportifitas, namun juga telah melanggar norma hukum yang berlaku ini? Dari jaman dulu hingga sekarang ini, tetap jawabannya hanya satu : angkat tangan, karena ini sudah masuk yuridis Kepolisian atas aksi kriminal yang terjadi.

Mengingat bahwa ketua Komdis PSSI saat ini, Hinca Panjaitan, pernah membuat desertasi mengenai penggunaan APBD untuk sepakbola dan juga menyinggung mengenai Lex Sportiva, tentu beliau mendalami akan batasan-batasan ini. Bahwa kita hidup dalam negara hukum dan sepakbola juga mempunyai peraturan tersendiri untuk mengakomodasi jalannya sepakbola 2×45 menit. Namun, kami merasa pesimis akan ada pengusutan kasus ini. Bahkan tahun lalu ketika Bonek terlibat kerusuhan melawan polisi dan dari kronologis kejadian memang mengarah pada kesalahan pihak Kepolisian, Komdis yang saat itu dijabat oleh Bernhard Limbong, juga tak bisa berbuat banyak.
Atas batalnya laga Persija melawan Persib ini, beragam komentar mengiringi pertanyaan mengenai kelanjutan laga ini. Tapi menurut dari kacamata kami sebagai P.S.K (Pengamat Sepakbola Koplaksiana) ada beberapa hal yang bisa dicermati. Laga dapat diputuskan Persija menang WO (walk out) bila tidak ada faktor force majeur. Tapi kendalanya, apakah penyerangan terhadap pemain dan official ketika belum tiba di tempat dilangsungkannya pertandingan itu tergolong faktor force majeur? Karena bila memang terkendala faktor force majeur, maka pertandingan bisa dijadwalkan ulang dalam laga tunda. Ini yang menjadi perdebatan, seandainya hal itu tidak tergolong faktor force majeur, tentu bisa jadi hal mudah begini : “Cara gampang agar menang tanpa bertanding adalah, cegat aja tim lawan biar nggak datang, dan tim kita dinyatakan menang WO”.

Dimana peran federasi untuk meredam gesekan antar suporter ?
Kembali pada topik utama kita kali ini mengenai Rivalitas Antar Suporter, serasa tak ada langkah nyata dari federasi untuk menciptakan iklim kondusif di persepakbolaan kita. Terutama di era dasawarsa terakhir kepemimpinan Nurdin Halid dan Djohar Arifin. KSN di Malang yang digagas oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun tak menyentuh secara eksplisit mengenai pemberdayaan suporter agar turut menjadi bagian perbaikan sepakbola nasional.

Dan apa hasil investigasi kami akan pertanyaan sederhana ini? Jawabannya cukup sederhana: Bahwa rivalitas antar suporter yang kian hari kian berkembang menjurus pada aksi anarkis ini adalah sengaja dipelihara untuk menjaga gap-gap antar suporter agar fanatisme berlebihan tetap tertanam kuat bagi masing-masing suporter. Dari segi pendekatan sosiologis, kami pernah bertanya pada salah satu dosen di Jogja mengenai fenomena suporter, beliau mengemukakan pendapatnya bahwa jargon “Mati, urip, toh nyawa, tetep mbela tim kesayanganku” memang menjadi faktor utama untuk menyuburkan fanatisme yang berlebihan. Dan jargon itu memang diciptakan dengan segala penyajian agar serasa bahwa suporter sendiri yang menginginkan jargon seperti itu. Jauh daripada itu, si pemangku kepentingan tetap akan bisa mengawal kepentingannya karena gap-gap yang tercipta secara periodik di tingkat suporter dan menyuburkan aroma rivalitas. Kalau sudah begini, maka suporter akan tercerai-berai dan kemungkinan besarnya adalah melupakan semangat persatuan dan kesatuan sebagai bagian dari sepakbola nasional. Mengapa para pemangku kepentingan hajatan sepakbola nasional takut kalau seandainya suporter bersatu, Nurdin Halid adalah contoh nyata.

Bila sudah begini, maka cita-cita Ronaldikin Taucho sebagai tokoh perdamaian antar suporter di Indonesia akan terasa sangat berat, karena menghadapi doktrin-doktrin yang tercipta di tingkat akar rumput. Rivalitas suporter itu yang bagaimana? Yaaaa menurut kami, rivalitas itu mendukung tim kesayangannya, Cules nyaman nonton ke Bernabeu dan Madridista nyaman nonton ke Nou Camp. Dan sebagai pelengkap akhir dari coretan ini, kami akan menampilkan hasil wawancara kami terhadap Sodrun atas kejadian beberapa hari yang lalu.

“Lhaaa, inyonge ya pilih mulih bae lah ora usah mangkat tanding. Ora apa-apa inyonge diarani pengecut, nyawane inyong luwih berharga timbangane mangkat tapi nyawa terancam. Ngapa toh nyawa kudu teka maring stadion, lha mengko bis’e diobong njur kepriwe je? Inyong mesti melu kobong, ora MATI SYAHID, tapi MATI SANGIT”
translate :
“Lhaaa, saya ya pilih pulang sajalah, nggak perlu berangkat bertanding. Tidak mengapa saya dibilang pengecut, nyawa saya lebih berharga daripada berangkat tapi nyawa terancam. Ngapain taruhan nyawa harus datang ke stadion, nanti busnya dibakar terus gimana? Saya pasti kebakar, bukan mati syahid, tapi mati sangit” (sangit = hangus terbakar)

sumber - http://olahraga.kompasiana.com/bola/2013/06/24/mengapa-rivalitas-suporter-terkesan-dibiarkan-571470.html

0 komentar:

Poskan Komentar

父 ULTRAS IN INDONESIA | SUPPORT YOUR LOCAL TEAM | 12 ALL BROTHERS 父

Updates Via E-Mail

Popular Post

Article

Best Photo

Video